Perbatasan Memanas: Pakistan-Taliban Batal Damai, Konflik Militer Mengintai
- aa.com.tr
Pemicu Terbaru: Ledakan di Kabul dan Bentrokan Perbatasan Berdarah
Ketegangan mencapai titik didih pada awal Oktober 2025. Pada 9 Oktober, sebuah ledakan besar mengguncang Kabul, menewaskan puluhan warga sipil. Taliban langsung menyalahkan agen intelijen Pakistan (ISI), klaim yang dibantah keras oleh Islamabad.
Dua pekan kemudian, bentrokan bersenjata meletus di wilayah perbatasan, melibatkan pasukan keamanan Pakistan dan milisi yang diduga didukung Taliban. Menurut laporan AFP, lebih dari 70 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka—menjadi insiden paling mematikan sejak Taliban berkuasa di 2021.
Sebagai respons, Pakistan menutup semua pos perbatasan, kecuali untuk warga Afghanistan yang dideportasi. Ribuan pengungsi dipaksa kembali ke negara yang masih dilanda krisis kemanusiaan.
Gencatan senjata 48 jam sempat diberlakukan, tetapi tidak diikuti oleh langkah kepercayaan bersama. Kini, dengan gagalnya perundingan di Istanbul, jendela diplomasi tampaknya mulai tertutup.
Peran TTP: Akar Konflik yang Tak Pernah Kunjung Usai
Inti dari krisis Pakistan-Taliban bukanlah sengketa wilayah, melainkan konflik identitas dan loyalitas ideologis.
Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) lahir sebagai pecahan dari Taliban Afghanistan, tetapi dengan agenda khusus: menggulingkan negara Pakistan dan mendirikan emirat Islam di wilayah Pashtun.
Meski secara ideologis mirip, Taliban Afghanistan dan TTP tidak sepenuhnya sejalan. Namun, Pakistan yakin bahwa pemerintahan Taliban di Kabul—yang mayoritas anggotanya berasal dari etnis Pashtun seperti TTP—tidak memiliki kemauan politik untuk menindak kelompok tersebut.
Beberapa analis menyebut ini sebagai “dilema saudara sedarah”: Taliban Afghanistan enggan menyerang TTP karena dianggap bagian dari gerakan perlawanan Pashtun terhadap negara-bangsa modern.
Bagi Pakistan, ini adalah ancaman eksistensial. “Kami tidak akan membiarkan teroris menggunakan Afghanistan sebagai pangkalan untuk menyerang rakyat kami,” tegas Menteri Pertahanan Khawaja Asif. “Setiap serangan akan dibalas dengan konsekuensi pahit.”
Respons Taliban dan Bahaya Balas Dendam Silang
Hingga kini, pemerintahan Taliban di Kabul belum mengeluarkan pernyataan resmi atas kegagalan perundingan. Namun, pernyataan juru bicara Abdul Mateen Qani pada Selasa (28/10) memberi sinyal keras: Afghanistan siap membalas setiap serangan.
Ini membuka skenario berbahaya: serangan lintas perbatasan balas-membalas yang bisa dengan cepat meningkat menjadi konflik terbuka.