Patung Macan Putih Kediri Viral: Warganet Bertanya, Ini Rincian Budget Pembangunannya

Patung Macan Putih Kediri Dana Desa atau Pribadi Ini Klarifikasi yang Dicari Warganet
Sumber :
  • jatimnow.com

Gadget – Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, viral di media sosial bukan hanya karena bentuknya, tapi juga karena publik mempertanyakan berapa sebenarnya anggaran pembangunannya.

Sama-sama Populer, Ini Perbedaan Utama Drama Cina dan Drama Korea

Di tengah berbagai komentar dan spekulasi warganet, isu yang paling sering muncul adalah soal dana. Banyak yang bertanya apakah patung tersebut dibangun menggunakan dana desa atau sumber lain.

Pemerintah Desa Balongjeruk akhirnya memberikan penjelasan resmi.

Mengupas Kelebihan Xiaomi 15 Ultra yang Bikin Flagship Lain Ketar-ketir

Dikutip dari jatimnow.com, Kepala Desa Balongjeruk, Safii, menjelaskan bahwa pembangunan Monumen Patung Macan Putih tidak menggunakan dana desa sama sekali. Seluruh biaya pembuatan patung berasal dari dana pribadi dirinya sebagai kepala desa.

“Ini murni dana pribadi, tidak ada penggunaan dana desa,” tegas Safii, Sabtu, 27 Desember 2025.

Awal 2026 Jadi Momen Emas One Piece, Ini 3 Adegan yang Bikin Fans Tak Sabar

Safii memaparkan bahwa total anggaran pembangunan patung tersebut mencapai Rp3.500.000. Angka tersebut mencakup seluruh proses pembuatan, mulai dari tenaga hingga material.

Rinciannya, Rp2.000.000 digunakan untuk biaya borongan tukang pembuat patung, sementara Rp1.500.000 dialokasikan untuk pembelian bahan dan material.

Menurut Safii, pembangunan monumen itu sendiri berawal dari usulan warga yang disampaikan dalam forum musyawarah desa. Musyawarah tersebut dihadiri oleh pemerintah desa, lembaga desa, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

Dalam forum itu, warga sepakat menjadikan Macan Putih sebagai ikon desa.

“Pemilihan Macan Putih tidak lepas dari cerita tutur para sesepuh desa. Konon, Macan Putih merupakan hewan peliharaan leluhur yang membabat atau membuka wilayah Desa Balongjeruk,” ujarnya, seperti dikutip dari jatimnow.com.

Soal kritik terhadap bentuk patung yang dinilai belum sesuai harapan, Safii tidak menampik adanya kekurangan. Ia mengakui hasil akhir patung saat ini belum sepenuhnya sesuai dengan rancangan awal.

“Kami menyadari wujud patung saat ini belum sesuai dengan gambar atau rancangan awal. Karena itu, kami berkomitmen untuk memperbaikinya,” ungkapnya.

Pemerintah Desa Balongjeruk menyatakan terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat demi penyempurnaan monumen tersebut. Masukan dari pemerintah daerah juga diharapkan agar ikon desa ini bisa memiliki nilai visual dan sejarah yang lebih kuat.

Halaman Selanjutnya
img_title