Lirik & Makna Lagu 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono: Kritik Tajam untuk Politik Indonesia
- dok. Netflix/Mens Rea
Tak ada niat jahat
Hanya Reportase sebab dan akibat
Bersiaplah para pejabat
Karena rakyat hanya tunggu koordinat
Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan
Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan
Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan
Presidennya gemoy Pemerintahnya Goyang
(diulang beberapa kali)
Rima cair mengalir seperti ucapan Jokowi
Pantang menyerah bak Prabowo aku kembali
Rapper yang kalah sakit hati nyinyir bak Megawati
rapku BUMN tapi standup PSSI
Iwa K-nya standup comedy
Dicky Mangay-nya hiphopindo
Lawannya politik dinasti
Tak tercela bagai para menkominfo
Kolabku dari Slank Tompi sampai Saykoji
Kutinggal standup balik-balik karir Glenn Fredly
Hiphopindo Gak Brenti Kata John Doe & Ferri
Telfon Wizzow masuk studio kini kembali
Bukan Bambang Pacul sikapku mandiri
Bukan Pratikno pesanku minim emoji
Satu Lawan Banyak sendiri berdiri
Telantar Asian Value Giring di mata Nidji
Ha Ha
Ini adalah eranya untuk menertawakan politik Indonesia
Aight lets go one two three ho
Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan...
(pengulangan refrain)
Makna Mendalam di Balik Lirik "Mens Rea"
1. Kritik terhadap Politik Transaksional dan Dinasti Kekuasaan
Pandji menyoroti praktik politik yang lebih mengandalkan uang, citra, dan relasi selebriti daripada integritas. Frasa seperti "dinasti curang miliki milisi selebriti comblang" dan "politikal yang transaksional" menggambarkan sistem di mana kekuasaan diwariskan atau dibeli, bukan direbut lewat meritokrasi.
2. Sindiran kepada Elite dengan Bahasa Populer
Kalimat "Presidennya gemoy, pemerintahnya goyang" menggunakan diksi santai namun menusuk menggambarkan ketidakseriusan atau ketidakstabilan kepemimpinan. Sementara "rapku BUMN tapi standup PSSI" adalah metafora cerdas: seperti BUMN yang sering jadi proyek politik, atau PSSI yang penuh drama begitu pula dunia politik.
3. Referensi Budaya dan Kolaborasi Seni
Pandji menyebut nama-nama besar seperti Slank, Tompi, Saykoji, Glenn Fredly, Iwa K, hingga Wizzow, menunjukkan bahwa perlawanan kultural bukan monopoli satu genre. Ia juga menyentil figur publik seperti Giring Nidji, yang dianggap "telantar" karena nilai-nilai Asian Values-nya tak lagi relevan di tengah realitas politik yang pragmatis.
4. Pesan Perlawanan: "Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan"
Pengulangan frasa ini bukan sekadar hook melainkan seruan kolektif. Pandji ingin mengingatkan bahwa kekuatan sejati ada di tangan rakyat, bukan di istana atau parlemen. Dan rakyat hanya butuh "koordinat" informasi, kesadaran, dan momen tepat untuk bangkit.