Link Video Parera Blunder Live Viral, 8 Video Dewasa Beredar! Ini Fakta di Balik Skandalnya

Link Video Parera Blunder Live Viral, 8 Video Dewasa Beredar! Ini Fakta di Balik Skandalnya
Sumber :
  • Tiktok

Gadget – Dunia media sosial kembali diguncang oleh skandal penyebaran konten intim tanpa izin. Kali ini, sorotan tertuju pada seorang konten kreator perempuan bernama Parera, yang diduga menjadi korban rekaman video call dewasa (VCS) yang disebarluaskan secara ilegal.

Link Video Xysil Model Viral: Akun IG Mendadak Digembok, Netizen Heboh!

Yang mengejutkan, bukan hanya satu atau dua potongan video yang beredar melainkan delapan rekaman berbeda, dengan durasi bervariasi, mulai dari 11 menit hingga hanya 11 detik. Konten-konten tersebut kini menjadi komoditas gelap di platform seperti Telegram, X (Twitter), dan Terabox, dijual dengan sistem langganan atau akses VIP.

Artikel ini mengupas fakta, modus pelaku, dampak terhadap korban, serta bahaya tren eksploitasi digital yang terus mengancam para kreator konten di Indonesia.

Link Video Siswi SMA Negeri 1 Abang Viral di Telegram, Waspada Malware!

Fakta: Delapan Potongan Video dengan Durasi Berbeda

Berdasarkan pantauan di akun-akun TikTok dan grup Telegram yang menjual konten ilegal, delapan potongan video yang dikaitkan dengan Parera memiliki durasi sebagai berikut:

Link Andini Permata Kembali Viral, Kenapa Linknya Mendadak Ramai?
  • 11 menit
  • 5 menit 39 detik
  • 3 menit 23 detik
  • 38 detik
  • 34 detik
  • 29 detik
  • 13 detik
  • 11 detik

Total, ada delapan segmen yang diduga merupakan bagian dari satu sesi video call yang sama. Video terpanjang (11 menit) adalah yang pertama kali viral, dengan klaim yang tidak terverifikasi bahwa pria di seberang layar adalah seorang "Sultan Malaysia".

Namun, netizen skeptis. Banyak yang menduga bahwa pria tersebut justru adalah pacar atau kenalan dekat Parera, yang merekam sesi tersebut tanpa sepengetahuan atau persetujuannya.

Modus Pelaku: Rekam Diam-Diam, Lalu Jual untuk Untung

Skandal Parera bukan kasus pertama dan sayangnya, mungkin bukan yang terakhir. Pola serupa telah menimpa sejumlah kreator perempuan di platform seperti TikTok, Instagram, dan live streaming.

Alur Modus Eksploitasi:

  • Pelaku menghubungi korban melalui DM atau ajakan kolaborasi.
  • Menawarkan jasa video call berbayar atau pura-pura menjadi penggemar setia.
  • Secara diam-diam merekam sesi VCS tanpa izin korban.
  • Mengedit rekaman menjadi potongan-potongan pendek untuk memudahkan distribusi.

Menjual akses ke konten ilegal melalui:

  • Grup Telegram VIP
  • Akun Twitter/X yang menyediakan link Terabox
  • Channel berbayar dengan sistem langganan bulanan

Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan mengklaim video tersebut berasal dari "live streaming", meski tidak ada bukti kuat bahwa Parera pernah melakukan siaran langsung dewasa di platform mana pun.

Dampak Ganda pada Korban: Trauma & Kerugian Finansial

Bagi Parera dan kreator lain yang mengalami hal serupa, konsekuensinya bersifat ganda dan merusak:

1. Pelanggaran Privasi Berat
Rekaman intim yang seharusnya bersifat privat tiba-tiba menjadi konsumsi publik. Ini bukan sekadar "malu" tapi bentuk kekerasan digital yang bisa memicu depresi, kecemasan, bahkan bunuh diri.

2. Stigma Sosial
Korban sering kali disalahkan oleh masyarakat: “Kenapa mau VCS?”, “Harusnya hati-hati!”. Padahal, mereka adalah korban kejahatan, bukan pelaku.

3. Kerugian Finansial
Ironisnya, sementara korban menderita, pelaku meraup untung dari penjualan konten ilegal tersebut. Parera sendiri tidak mendapat sepeser pun bahkan akunnya bisa diblokir atau di-bully hingga kehilangan penghasilan dari endorse.

Platform Penyebaran: Telegram, Terabox, dan X Jadi Sarang Konten Ilegal

Konten seperti video Parera jarang tersebar di platform utama seperti TikTok atau Instagram karena cepat dihapus oleh tim moderasi. Namun, pelaku pintar: mereka menggunakan saluran yang lebih sulit dimoderasi:

  • Telegram: Grup privat dengan akses berbayar
  • Terabox: Layanan cloud yang memungkinkan berbagi file besar via link
  • X (Twitter): Akun anonim yang memposting teaser + link download

Sistem ini menciptakan ekosistem ilegal yang menguntungkan, dengan ratusan hingga ribuan pengguna membayar untuk mengakses konten eksploitatif.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Menjadi Korban?

Jika Anda atau kenalan Anda mengalami hal serupa, berikut langkah penting yang disarankan:

  • Jangan sebarkan ulang itu memperparah pelanggaran.
  • Laporkan ke platform (Telegram, Terabox, Twitter) untuk penghapusan konten.
  • Ajukan laporan ke polisi berdasarkan UU ITE Pasal 27 ayat (1) tentang pornografi elektronik.
  • Hubungi lembaga bantuan korban kekerasan digital, seperti SAFEnet atau Komnas Perempuan.
  • Simpan bukti (screenshot, link, nama akun penyebar) untuk proses hukum.

Ingat: korban tidak bersalah. Yang salah adalah pelaku yang merekam dan menyebarkan tanpa izin.

Peringatan untuk Pengguna Internet: Jangan Cari atau Sebarkan!

Mencari “link Parera” atau mengklik video tersebut bukan hanya tidak etis tapi juga berpotensi melanggar hukum. Di banyak negara, termasuk Indonesia, mengakses, menyimpan, atau menyebarkan konten intim non-konsensual bisa dikenai sanksi pidana.

Selain itu, mengklik link dari sumber tidak resmi berisiko tinggi terkena malware, phishing, atau penipuan online. Banyak akun palsu yang memanfaatkan rasa penasaran untuk mencuri data pribadi.

Kesimpulan: Ini Bukan Gosip Ini Kejahatan Digital

Kasus Parera bukan sekadar “skandal seleb TikTok”. Ini adalah contoh nyata kekerasan berbasis gender di ruang digital, yang terus berulang karena minimnya edukasi, perlindungan hukum, dan empati sosial.

Sebagai masyarakat digital, kita punya tanggung jawab:

  • Jangan ikut menyebarkan
  • Lindungi korban, bukan menghakimi
  • Dorong platform untuk memperkuat perlindungan privasi

Karena di balik setiap video yang viral, ada manusia yang sedang menderita dan mereka berhak atas rasa aman, keadilan, dan pemulihan.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget