Siswa Ternate Bongkar Guru "Ghaib", Reaksi Sherly Tjoanda Bikin Tenaga Pengajar Ketar-ketir

Siswa Ternate Bongkar Guru "Ghaib", Reaksi Sherly Tjoanda Bikin Tenaga Pengajar Ketar-ketir
Sumber :
  • Instagram/mood.jakarta

Gadget – Fenomena "guru ghaib"—istilah sindiran untuk tenaga pengajar yang namanya ada di daftar hadir tapi fisiknya jarang terlihat di kelas—menjadi rahasia umum yang meresahkan di banyak sekolah daerah. Namun, kebisuan yang biasanya menyelimuti masalah ini mendadak pecah di Ternate. Dalam sebuah inspeksi mendadak (sidak) yang kini viral di media sosial, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengubah kunjungan kerjanya menjadi "sidang terbuka" yang membuat para oknum guru indisipliner tak bisa tidur nyenyak.

Redmi Turbo 5 Max: Baterai 9000mAh Tantang Daya Tahan Honor

Video yang beredar luas tersebut menangkap momen langka di mana hierarki kaku sekolah runtuh seketika. Para siswa, yang biasanya takut bersuara karena ancaman nilai atau sanksi, menemukan keberanian mereka di hadapan orang nomor satu di Maluku Utara. Respons Sherly Tjoanda yang lugas dan protektif terhadap para siswa jujur ini menjadi sorotan utama, mengirimkan sinyal keras bahwa era "makan gaji buta" di sektor pendidikan Malut sedang diawasi ketat.

"Kamu Curhat ke Orang yang Tepat"

Lenovo Idea Tab Mulai Terima Android 16: Peningkatan Produktivitas Besar

Insiden bermula ketika Sherly Tjoanda memasuki ruang kelas dan membuka dialog dengan para murid. Alih-alih mendapatkan jawaban normatif bahwa "sekolah aman terkendali", Sherly justru disuguhi fakta lapangan yang menohok. Dua orang siswa dengan lantang menyuarakan keresahan mereka tentang banyaknya jam kosong (free class) yang tidak produktif akibat guru yang enggan masuk mengajar.

Reaksi Sherly menjadi kunci viralnya momen ini. Tidak ada upaya untuk menutupi aib sekolah atau membela birokrasi. Dengan tenang namun tegas, ia memvalidasi keluhan tersebut dengan kalimat, "Kamu curhat ke orang yang tepat." Kalimat ini seketika mengubah posisi siswa dari sekadar objek didik menjadi pelapor yang dilindungi negara. Sherly langsung mengeluarkan buku catatannya, meminta detail spesifik, dan mengubah keluhan abstrak menjadi data investigasi.

Honor Watch GS 5: Smartwatch Rp1,5 Juta, Bisa Deteksi Henti Jantung

Target Operasi: Guru Informatika dan PKN

Keberanian siswa semakin memuncak ketika didesak untuk menyebut spesifikasi. Terungkap bahwa ketidakhadiran guru ini memiliki pola diskriminatif; kelas 10 menjadi korban paling sering dibandingkan kelas 11.

Para siswa secara spesifik menyoroti mata pelajaran Informatika sebagai "zona merah" kehadiran guru. Nama "Pak Jaya" bahkan disebut secara eksplisit oleh siswa sebagai salah satu pengajar yang paling jarang menampakkan diri. Tak hanya itu, guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) juga masuk dalam daftar aduan dengan alasan klasik "banyak kegiatan luar". Fakta bahwa siswa berani menyebut nama dan mata pelajaran menunjukkan tingkat frustrasi yang sudah memuncak, sekaligus kepercayaan penuh mereka bahwa Gubernur Sherly bisa memberikan solusi konkret.

Halaman Selanjutnya
img_title