Iran Diserang? Kataib Hizbullah: Kami Siap Habisi Musuh di Wilayah Kami!

Iran Diserang? Kataib Hizbullah: Kami Siap Habisi Musuh di Wilayah Kami!
Sumber :
  • washingtoninstitute.

Gadget – Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Kataib Hizbullah, salah satu kelompok paramiliter paling berpengaruh di Irak, telah mengeluarkan pernyataan tegas: mereka siap berperang secara total jika Iran diserang. Pernyataan ini bukan sekadar retorika melainkan sinyal eskalasi serius dalam dinamika keamanan regional yang sudah membara.

AS Ancam Serang Iran Jilid 2, Adu Kekuatan Militer AS vs Iran

Pada Minggu malam, 25 Januari 2026, pemimpin Kataib Hizbullah, Abu Hussein al-Hamidawi, menyampaikan pidato berapi-api yang menyerukan seluruh pasukannya untuk bersiap menghadapi kemungkinan konflik terbuka. Ia menuduh “kekuatan kegelapan” istilah yang merujuk pada AS dan sekutunya sedang berkumpul untuk “menghancurkan Iran.”
“Kami menegaskan kepada musuh bahwa perang melawan Iran tidak akan semudah berjalan-jalan di taman,” kata al-Hamidawi, dikutip dari Al Jazeera, Senin (26/1/2026).
“Tetapi sebaliknya, kalian akan merasakan kematian yang paling pahit, dan tidak akan ada yang tersisa dari kalian di wilayah kami.”

Pernyataan ini muncul di saat AS sedang memperkuat kehadiran militernya di Teluk Persia, termasuk pengiriman armada kapal perang besar. Langkah tersebut memicu respons keras dari Teheran, yang menyatakan siaga tinggi dan siap membela kedaulatannya “dengan kekuatan penuh.”

Perang di Ambang Pintu? Netanyahu Ancam Iran dengan Balasan Mematikan

Latar Belakang: Mengapa Kali Ini Berbeda?

Menariknya, al-Hamidawi menekankan bahwa respons kali ini akan jauh berbeda dibanding serangan sebelumnya. Pada Juni 2025, ketika Israel dan AS melakukan serangan terbatas terhadap target Iran, kelompok-kelompok sekutu regional termasuk milisi Irak tidak memberikan bantuan militer langsung.

Venezuela Dapat Dukungan Iran, Konflik dengan AS Bisa Meledak

Namun kini, situasinya berubah. Al-Hamidawi menyerukan solidaritas poros perlawanan, yang mencakup Iran, Hezbollah Lebanon, Hamas, dan faksi-faksi bersenjata di Irak dan Yaman. Ia mendesak semua pihak untuk “membantu Iran dengan cara apa pun yang mereka bisa.”
“Kita harus bersatu. Kemenangan Iran adalah kemenangan kita semua,” tegasnya.

Kataib Hizbullah sendiri adalah bagian integral dari Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) koalisi milisi yang didirikan pada 2014 untuk melawan ISIS dan kini menjadi kekuatan politik-militer dominan di Irak. Kelompok ini dikenal dekat dengan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan kerap menerima pelatihan serta senjata dari Teheran.

Respons AS: Desakan agar Irak Jauhi Pengaruh Iran

Di tengah ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio melakukan panggilan telepon darurat dengan Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani, pada hari Minggu. Dalam percakapan itu, Rubio mendesak Baghdad untuk menjaga jarak dari Iran dan tidak terlibat dalam konflik regional.

“Pemerintah yang dikendalikan oleh Iran tidak dapat berhasil mengutamakan kepentingan Irak sendiri, menjaga Irak agar tidak terlibat dalam konflik regional, atau memajukan kemitraan yang saling menguntungkan antara AS dan Irak,” kata Rubio, menurut juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott.

Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Washington bahwa Irak bisa menjadi medan pertempuran proksi jika ketegangan AS-Iran memuncak menjadi perang terbuka.

Eskalasi Militer: AS Kirim Armada, Maskapai Batalkan Penerbangan

Ketegangan ini bukan hanya retorika dampak nyatanya sudah terasa. Sejumlah maskapai internasional telah menangguhkan penerbangan ke dan dari wilayah Timur Tengah akibat risiko keamanan yang meningkat.

Sementara itu, Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyerukan demonstran Iran untuk “mengambil alih lembaga negara” kini mengklaim telah menerima jaminan dari Teheran bahwa eksekusi terhadap pembangkang akan dihentikan. Namun, ia tetap memperkuat postur militer AS:
“Kita memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga. Kita memiliki armada besar yang menuju ke arah itu. Kita akan lihat apa yang terjadi.”

Di sisi lain, Iran menegaskan komitmennya pada diplomasi tapi dengan batas tegas.
“Iran melakukan segala yang bisa dilakukannya secara diplomatis, tetapi angkatan bersenjata akan menanggapi dengan tegas setiap pelanggaran kedaulatan negara,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin (26/1/2026).

Apa Arti Ancaman Kataib Hizbullah bagi Stabilitas Regional?

Ancaman dari Kataib Hizbullah bukan bisa diabaikan. Kelompok ini memiliki:

  • Ribuan pejuang bersenjata
  • Akses ke roket presisi dan drone
  • Jaringan logistik lintas perbatasan
  • Pengaruh politik di parlemen Irak

Jika konflik meletus, serangan terhadap pangkalan AS di Irak atau Suriah sangat mungkin terjadi seperti yang pernah terjadi setelah pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani pada 2020.

Lebih jauh, keterlibatan aktif Kataib Hizbullah bisa menarik seluruh poros perlawanan ke dalam perang, termasuk Hezbollah di Lebanon, yang memiliki arsenal roket terbesar di dunia non-negara.

Kesimpulan: Dunia di Ambang Krisis Regional?

Dengan AS mengerahkan armada, Iran siaga penuh, dan milisi Irak bersumpah setia hingga mati, kawasan Timur Tengah berada di titik paling rentan sejak krisis nuklir 2019.

Pernyataan Kataib Hizbullah bukan hanya soal solidaritas ideologis ia adalah peringatan strategis: bahwa serangan terhadap Iran tidak akan berlangsung dalam ruang hampa. Konsekuensinya akan luas, cepat, dan brutal.

Dunia kini menahan napas. Karena seperti kata al-Hamidawi:
“Perang ini bukan jalan-jalan di taman.”

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget