Australia Batalkan Visa Influencer Israel karena Pernyataan Hina Islam

influencer Israel Sammy Yahood
Sumber :
  • lifeworks

Pemerintah Australia mengambil langkah tegas dengan membatalkan visa seorang influencer asal Israel yang dikenal dengan pernyataan kontroversialnya terhadap agama Islam. Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, hanya beberapa jam sebelum influencer tersebut dijadwalkan tiba di Australia pada Senin (26/1/2026).

Meta Blokir 550 Ribu Akun Anak di Australia: Regulasi Usia Mendesak

Sammy Yahood, yang sebelumnya dijadwalkan memberikan pidato di sejumlah acara besar di Sydney dan Melbourne, kini tidak bisa melanjutkan rencananya. Keputusan ini muncul setelah pemerintah Australia menilai pernyataannya menyinggung dan menghina umat Islam, sebuah tindakan yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip toleransi dan keamanan di negara tersebut.

Sejarah Penolakan Visa Serupa

Apple Pay China Kini Dukung Visa Lintas Batas Internasional

Kasus Sammy Yahood bukanlah yang pertama. Australia sebelumnya juga pernah menolak masuk beberapa tokoh Israel karena alasan serupa. Contohnya, Hillel Fuld, seorang pengusaha teknologi, direncanakan mengunjungi Australia pada Juni 2025. Namun, rencana itu dibatalkan setelah muncul pernyataan yang dianggap Islamofobia dari Fuld.

Tak hanya itu, pada Agustus 2025, visa politisi sayap kanan Israel, Simcha Rothman, juga dibatalkan. Rothman diketahui mendukung pengusiran warga Gaza dan pernah menyebut anak-anak Palestina sebagai musuh Israel. Pemerintah Australia menilai pernyataan seperti ini bisa menimbulkan ketegangan sosial dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi di negeri Kanguru.

550 Ribu Akun Anak Diblokir Meta: Dampak Aturan Medsos Australia

Penekanan pada Kebijakan Imigrasi dan Toleransi

Menurut Tony Burke, pembatalan visa Yahood merupakan bagian dari komitmen Australia untuk menjaga keamanan dan harmoni sosial. "Negara kita tidak bisa membiarkan pernyataan yang menghina agama tertentu masuk begitu saja," tegas Burke. Keputusan ini juga menjadi sinyal bagi para pengunjung internasional bahwa Australia menempatkan nilai toleransi dan penghormatan antarumat beragama sebagai prioritas utama.

Selain itu, pemerintah Australia menekankan bahwa tindakan ini bukan bentuk sensor politik, melainkan langkah preventif untuk melindungi masyarakat dan mencegah potensi konflik. Dalam konteks global, kasus seperti ini menunjukkan betapa pentingnya pemerintah untuk menilai latar belakang dan rekam jejak pengunjung sebelum memberikan izin masuk.

Dampak Terhadap Hubungan Internasional

Meski kontroversial, langkah Australia ini dipandang sebagai bagian dari kebijakan imigrasi yang tegas dan konsisten. Namun, tentu ada risiko dampak diplomatik. Israel kemungkinan akan mencermati kebijakan ini, mengingat beberapa warganya pernah ditolak masuk karena pernyataan yang kontroversial. Meski begitu, banyak pihak di dalam negeri Australia menyambut baik keputusan ini karena menunjukkan konsistensi pemerintah dalam menegakkan nilai-nilai sosial dan toleransi.

Di sisi lain, keputusan serupa juga pernah diambil oleh negara-negara lain terhadap pengunjung yang dinilai berpotensi memicu ketegangan. Dengan meningkatnya isu intoleransi dan pernyataan ekstrem, tindakan preventif seperti ini dianggap perlu untuk menjaga stabilitas dan keamanan masyarakat.

Refleksi Terhadap Media Sosial dan Kontroversi Publik

Kasus Yahood juga menjadi refleksi bagi influencer dan publik figur internasional. Media sosial yang semakin masif membuat setiap pernyataan dapat cepat menyebar dan menimbulkan kontroversi lintas negara. Oleh karena itu, reputasi online kini bukan hanya soal citra pribadi, tetapi juga bisa memengaruhi akses ke negara lain.

Sejumlah pakar keamanan menekankan bahwa pengaruh digital sangat besar, sehingga pemerintah memiliki hak untuk menilai apakah seorang pengunjung dapat menimbulkan risiko sosial atau politik. Dalam konteks ini, Australia menunjukkan sikap tegas namun terukur, menimbang antara hak kebebasan berbicara dan kepentingan keamanan serta ketertiban masyarakat.

Kasus Sammy Yahood menegaskan bahwa Australia serius menegakkan prinsip toleransi dan keamanan dalam kebijakan imigrasinya. Pemerintah tidak ragu untuk membatalkan visa, meski itu berarti membatalkan kunjungan publik figur internasional. Dengan langkah ini, Australia sekaligus mengirim pesan jelas: setiap pernyataan yang mengandung kebencian atau intoleransi tidak akan diterima di tanahnya.

Sebagai catatan, keputusan ini sejalan dengan tindakan sebelumnya, termasuk pembatalan visa Hillel Fuld dan Simcha Rothman, yang menekankan konsistensi kebijakan. Bagi para pengunjung internasional, hal ini menjadi pengingat bahwa Australia menempatkan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan di atas kepentingan pribadi atau politik.