Konflik AS–Iran Memanas, Negara Mana yang Akan Berdiri di Belakang Iran?
- wiki
Peran Kelompok Proxy di Kawasan
Di luar dukungan negara, Iran memiliki jaringan kelompok bersenjata regional yang dikenal sebagai Axis of Resistance atau poros perlawanan. Kelompok-kelompok ini memainkan peran penting jika konflik dengan Amerika Serikat meningkat.
Hezbollah di Lebanon menjadi salah satu kekuatan utama yang dekat dengan Iran. Kelompok ini memiliki kemampuan militer signifikan dan selama bertahun-tahun terlibat ketegangan dengan Israel, sekutu utama AS di kawasan.
Selain itu, terdapat milisi pro-Iran di Irak dan Yaman, termasuk kelompok Houthi. Mereka kerap melakukan tekanan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya, baik melalui serangan maupun gangguan jalur strategis.
Hamas di Gaza juga sering dikaitkan dengan jaringan ini, meskipun hubungan operasionalnya dengan Iran bersifat dinamis dan kompleks. Perlu dicatat, kelompok-kelompok ini bukanlah negara, namun aktivitas mereka bisa memicu eskalasi konflik regional yang luas.
Sikap Negara Arab dan Dunia Muslim
Sikap negara-negara Arab dan mayoritas Muslim terhadap Iran terbilang beragam. Sebagian negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Oman cenderung mendorong de-eskalasi. Mereka berkepentingan menjaga stabilitas kawasan dan menghindari perang besar yang dapat berdampak pada ekonomi serta keamanan regional.
Beberapa di antaranya bahkan enggan menyediakan dukungan logistik bagi operasi militer Amerika Serikat. Meski demikian, negara-negara ini juga tidak serta-merta membela Iran secara militer, mengingat adanya perbedaan kepentingan dan rivalitas lama.
Di tingkat global, banyak negara Muslim memilih jalur diplomasi dan menyerukan penyelesaian damai. Mereka mungkin mengecam serangan militer, tetapi tetap menjaga posisi netral dalam konflik terbuka.
Sikap Eropa dan Komunitas Internasional
Sementara itu, negara-negara Eropa dan anggota NATO umumnya berada di sisi Amerika Serikat dalam isu keamanan global. Namun, pengalaman konflik sebelumnya membuat mereka lebih berhati-hati terhadap perang besar di Timur Tengah.
Uni Eropa cenderung mengutamakan sanksi, negosiasi, dan tekanan diplomatik dibandingkan intervensi militer langsung. Di luar kawasan tersebut, negara-negara Afrika dan Asia lainnya juga lebih memilih menekankan pentingnya dialog dan stabilitas global.
Jika Amerika Serikat menyerang Iran, dukungan terhadap Teheran kemungkinan besar tidak akan berbentuk aliansi militer resmi. Sebaliknya, Iran akan mengandalkan dukungan politik dan diplomatik dari negara seperti Rusia dan China, serta tekanan tidak langsung melalui kelompok proxy di kawasan.