Konflik AS–Iran Memanas, Negara Mana yang Akan Berdiri di Belakang Iran?
- wiki
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran selalu menjadi sorotan dunia internasional. Setiap kali wacana serangan militer mencuat, pertanyaan yang kerap muncul adalah siapa saja pihak yang akan berdiri di belakang Teheran. Namun, dukungan terhadap Iran tidak bisa disamakan dengan aliansi militer formal seperti NATO yang dimiliki Amerika Serikat dan sekutunya.
Dalam konteks geopolitik global, dukungan terhadap Iran sangat bergantung pada skala konflik. Apakah hanya berupa serangan militer terbatas, atau justru berubah menjadi perang terbuka yang meluas ke kawasan Timur Tengah. Sejauh ini, tidak ada negara besar yang secara terbuka berjanji akan mengirim pasukan untuk membela Iran jika konflik bersenjata pecah.
Meski begitu, sejumlah negara dan kelompok tetap dipandang memiliki kedekatan politik, ideologis, maupun strategis dengan Iran. Dukungan ini umumnya muncul dalam bentuk diplomatik, ekonomi, atau tekanan tidak langsung terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.
Rusia dan China Jadi Penopang Politik
Pertama, Rusia dan China sering disebut sebagai dua kekuatan global yang paling konsisten membela Iran di panggung internasional. Keduanya kerap mengkritik kebijakan sanksi Amerika Serikat dan menilai tekanan terhadap Iran sebagai bentuk dominasi sepihak.
Rusia memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah, termasuk kerja sama militer dan energi dengan Iran. Sementara itu, China melihat Iran sebagai mitra penting dalam jalur perdagangan dan pasokan energi. Meski demikian, baik Moskow maupun Beijing cenderung berhati-hati. Dukungan yang diberikan lebih banyak berupa pernyataan politik, veto di forum internasional, hingga kerja sama ekonomi dan teknologi.
Hingga kini, belum ada indikasi kuat bahwa Rusia atau China siap terlibat langsung dalam perang bersenjata demi Iran. Keduanya lebih memilih jalur diplomasi dan menekan agar konflik tidak berkembang menjadi perang besar.
Korea Utara dan Hubungan Simbolis
Selain Rusia dan China, Korea Utara juga sering dikaitkan dengan Iran. Hubungan kedua negara telah terjalin sejak lama, terutama dalam kerja sama teknologi militer dan persenjataan.
Namun demikian, dukungan Korea Utara lebih bersifat simbolis dan terbatas. Dalam skenario konflik besar, Pyongyang diperkirakan tidak memiliki kapasitas maupun kepentingan untuk terlibat langsung. Dukungan yang mungkin muncul sebatas pernyataan politik atau kerja sama teknis di balik layar.
Peran Kelompok Proxy di Kawasan
Di luar dukungan negara, Iran memiliki jaringan kelompok bersenjata regional yang dikenal sebagai Axis of Resistance atau poros perlawanan. Kelompok-kelompok ini memainkan peran penting jika konflik dengan Amerika Serikat meningkat.
Hezbollah di Lebanon menjadi salah satu kekuatan utama yang dekat dengan Iran. Kelompok ini memiliki kemampuan militer signifikan dan selama bertahun-tahun terlibat ketegangan dengan Israel, sekutu utama AS di kawasan.
Selain itu, terdapat milisi pro-Iran di Irak dan Yaman, termasuk kelompok Houthi. Mereka kerap melakukan tekanan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya, baik melalui serangan maupun gangguan jalur strategis.
Hamas di Gaza juga sering dikaitkan dengan jaringan ini, meskipun hubungan operasionalnya dengan Iran bersifat dinamis dan kompleks. Perlu dicatat, kelompok-kelompok ini bukanlah negara, namun aktivitas mereka bisa memicu eskalasi konflik regional yang luas.
Sikap Negara Arab dan Dunia Muslim
Sikap negara-negara Arab dan mayoritas Muslim terhadap Iran terbilang beragam. Sebagian negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Oman cenderung mendorong de-eskalasi. Mereka berkepentingan menjaga stabilitas kawasan dan menghindari perang besar yang dapat berdampak pada ekonomi serta keamanan regional.
Beberapa di antaranya bahkan enggan menyediakan dukungan logistik bagi operasi militer Amerika Serikat. Meski demikian, negara-negara ini juga tidak serta-merta membela Iran secara militer, mengingat adanya perbedaan kepentingan dan rivalitas lama.
Di tingkat global, banyak negara Muslim memilih jalur diplomasi dan menyerukan penyelesaian damai. Mereka mungkin mengecam serangan militer, tetapi tetap menjaga posisi netral dalam konflik terbuka.
Sikap Eropa dan Komunitas Internasional
Sementara itu, negara-negara Eropa dan anggota NATO umumnya berada di sisi Amerika Serikat dalam isu keamanan global. Namun, pengalaman konflik sebelumnya membuat mereka lebih berhati-hati terhadap perang besar di Timur Tengah.
Uni Eropa cenderung mengutamakan sanksi, negosiasi, dan tekanan diplomatik dibandingkan intervensi militer langsung. Di luar kawasan tersebut, negara-negara Afrika dan Asia lainnya juga lebih memilih menekankan pentingnya dialog dan stabilitas global.
Jika Amerika Serikat menyerang Iran, dukungan terhadap Teheran kemungkinan besar tidak akan berbentuk aliansi militer resmi. Sebaliknya, Iran akan mengandalkan dukungan politik dan diplomatik dari negara seperti Rusia dan China, serta tekanan tidak langsung melalui kelompok proxy di kawasan.
Sebagian negara Arab memilih bersikap netral atau mendorong diplomasi, sementara mayoritas komunitas internasional berupaya mencegah eskalasi lebih lanjut. Dengan demikian, konflik tersebut berpotensi menjadi ajang tarik-menarik kepentingan global, bukan perang blok militer secara terbuka.