Jelang Ramadan, Imam Masjid Al Aqsa Ditangkap Tanpa Penjelasan
- alaqsa
Secara historis, Israel menduduki Yerusalem Timur setelah Perang Arab-Israel 1967. Kemudian pada 1980, Israel mencaplok seluruh kota Yerusalem dan menyatakannya sebagai ibu kota yang “tidak terbagi”. Akan tetapi, langkah tersebut tidak pernah diakui oleh sebagian besar komunitas internasional. Status Yerusalem Timur hingga kini masih menjadi salah satu isu paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Dalam konteks tersebut, penahanan Sheikh Muhammad Ali Abbasi menambah daftar panjang kebijakan yang dinilai kontroversial. Apalagi, waktu pelaksanaannya berdekatan dengan Ramadan. Banyak pihak khawatir pembatasan seperti ini dapat memicu ketegangan baru, terutama jika akses jemaah semakin diperketat selama bulan puasa.
Sementara itu, warga Palestina di Yerusalem dan sekitarnya biasanya memanfaatkan Ramadan untuk mempererat hubungan sosial dan memperkuat solidaritas. Setiap malam, ribuan orang berkumpul untuk salat tarawih dan berbuka puasa bersama di halaman masjid. Karena itu, pembatasan terhadap tokoh agama dipandang bukan sekadar persoalan administratif, melainkan menyangkut simbol kepemimpinan spiritual.
Di sisi Israel, kebijakan keamanan kerap dijadikan alasan utama dalam mengatur akses ke kawasan suci. Pemerintah Israel berulang kali menyatakan bahwa pembatasan dilakukan demi mencegah potensi kerusuhan. Meski begitu, kurangnya penjelasan resmi mengenai kasus Sheikh Muhammad Ali Abbasi membuat kebijakan tersebut menuai tanda tanya.
Lebih jauh lagi, pengamat menilai bahwa ketegangan yang terus berulang di sekitar Masjid Al Aqsa menunjukkan betapa sensitifnya isu Yerusalem. Setiap tindakan, sekecil apa pun, dapat memicu reaksi berantai baik di tingkat lokal maupun internasional. Terlebih lagi, Ramadan sering kali menjadi periode dengan intensitas emosi dan partisipasi publik yang tinggi.
Dengan demikian, perkembangan terbaru ini tidak hanya berdampak pada komunitas lokal, tetapi juga berpotensi memengaruhi dinamika politik yang lebih luas. Dunia internasional pun biasanya menaruh perhatian ekstra terhadap situasi di Yerusalem saat Ramadan tiba.
Ke depan, semua pihak berharap situasi dapat dikelola dengan lebih hati-hati. Stabilitas kawasan suci sangat bergantung pada kebijakan yang transparan serta komunikasi yang jelas antara otoritas terkait. Tanpa itu, kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan akan terus membayangi Ramadan tahun ini.