Investasi Emas vs Saham Saat Krisis: Mana yang Lebih Cuan dan Aman?

Investasi Emas vs Saham Saat Krisis: Mana yang Lebih Cuan dan Aman?
Sumber :
  • pegadaian

Di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, banyak investor mulai mencari instrumen yang paling aman sekaligus tetap berpotensi menghasilkan keuntungan. Saat pasar bergejolak, keputusan investasi tidak bisa diambil asal ikut tren. Salah langkah justru bisa membuat kerugian makin besar.

img_title Samsung SDI Jual Saham Rp109 Triliun Demi Baterai Solid-State

Dua instrumen yang paling sering dibandingkan dalam situasi seperti ini adalah emas dan saham. Keduanya sama-sama populer, tetapi punya karakter yang sangat berbeda saat krisis datang.

Menurut sejumlah referensi investasi, emas dan saham sama-sama bisa menjadi pilihan, tergantung tujuan dan profil risiko masing-masing investor. Lalu, mana yang lebih cuan saat krisis?

img_title Purbaya Optimistis IHSG Senin Aman, Investor Diminta Tak Panik

Emas: Lebih Stabil saat Pasar Bergejolak

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Saat ekonomi memburuk, inflasi naik, atau nilai mata uang melemah, banyak investor cenderung beralih ke emas karena dianggap lebih aman dibanding aset lain.

img_title OpenAI Kalahkan SpaceX, Resmi Jadi Perusahaan Swasta Termahal di Dunia

Keunggulan utama emas ada pada stabilitasnya. Nilainya tidak bergantung pada kinerja perusahaan tertentu, sehingga relatif lebih tahan terhadap guncangan pasar. Dalam kondisi krisis, harga emas bahkan kerap naik karena permintaan meningkat.

Bagi investor yang ingin menjaga nilai kekayaan, emas sering dipilih sebagai instrumen proteksi. Emas memang tidak memberi dividen atau pendapatan pasif, tetapi fungsinya sebagai penjaga nilai aset membuatnya tetap relevan, terutama saat situasi ekonomi tidak menentu.

Saham: Lebih Berisiko, tetapi Punya Peluang Cuan Besar

Berbeda dengan emas, saham cenderung lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi. Saat krisis, harga saham bisa turun tajam karena kinerja perusahaan ikut tertekan. Volatilitas pun meningkat, sehingga risiko kerugian menjadi lebih besar.

Meski begitu, saham punya keunggulan yang tidak dimiliki emas, yaitu potensi pertumbuhan yang tinggi. Jika investor membeli saham saat harga sedang murah lalu menahannya hingga ekonomi pulih, peluang keuntungan bisa sangat besar.

Selain dari kenaikan harga, saham juga bisa memberikan dividen dari perusahaan yang sehat secara finansial. Karena itu, saham lebih cocok untuk investor yang memiliki horizon jangka panjang dan siap menghadapi fluktuasi pasar.

Halaman Selanjutnya
img_title