Membaca Kartini, Membaca Ulang Habis Gelap Terbitlah Terang
- Info Nasional
Kartini yang Kritis dan Mandiri
Kartini lahir pada 21 April 1879 dari keluarga bangsawan Jawa. Latar keluarganya memberinya akses pada pendidikan, meski tetap dibatasi oleh aturan sosial pada zamannya. Sejak muda, ia sudah menulis. Salah satu tulisannya bahkan dimuat saat usianya baru 14 tahun.
Dalam surat-suratnya, Kartini tampak sebagai perempuan yang terus bertumbuh. Setelah menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat, cakrawala pikirannya justru makin luas. Ia menulis bahwa dirinya belajar banyak dari kehidupan bersama suami, yang memberinya kesempatan melihat dunia dari sudut pandang baru.
Kartini juga sempat merencanakan menulis karya sejarah tentang tanah Jawa. Dalam surat terakhirnya, ia menyinggung akar kemiskinan masyarakat Jawa yang menurutnya tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pajak kolonial. Pandangan itu menunjukkan ketajaman analisis sosial yang jarang dimiliki perempuan pribumi pada masa itu.
Sayangnya, Kartini meninggal muda, pada usia 25 tahun, tak lama setelah melahirkan anak pertamanya. Ia tidak sempat mewujudkan seluruh rencana besarnya. Meski begitu, gagasannya justru makin hidup setelah ia tiada.
Kartini, Pahlawan, dan Kritik Zaman Kini
Setelah Indonesia merdeka, Kartini semakin diposisikan sebagai ikon perempuan modern. Organisasi perempuan seperti Gerwani bahkan memakai nama Kartini untuk buletin mereka, sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat pembebasan yang ia bawa. Pada 1964, pemerintah menetapkannya sebagai pahlawan nasional.
Namun, dalam perkembangan belakangan, sosok Kartini juga menuai kritik. Ada yang mempertanyakan mengapa Kartini lebih menonjol dibanding tokoh perempuan lain seperti Tjut Njak Dhien, Rohana Kudus, atau Dewi Sartika. Kritik lain menyebut Kartini sebagai produk modernitas kolonial, atau terlalu Jawa-sentris.
Meski begitu, kritik tersebut tidak otomatis menghapus arti penting Kartini. Banyak tokoh pergerakan lain juga lahir dari sistem pendidikan kolonial. Yang membedakan Kartini adalah keberaniannya membayangkan masa depan yang lebih luas dari sekadar batas etnis, wilayah, atau kelas sosial.
Dalam salah satu suratnya, Kartini bahkan menulis keinginannya untuk berkenalan dengan perempuan modern yang mandiri, aktif, dan bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat luas. Di situ terlihat jelas bahwa Kartini tidak sedang berbicara tentang kebebasan individual semata. Ia berbicara tentang tanggung jawab sosial.