Membaca Kartini, Membaca Ulang Habis Gelap Terbitlah Terang
- Info Nasional
Setiap zaman punya tokohnya sendiri. Dalam sejarah Indonesia, Raden Ajeng Kartini tetap menjadi salah satu nama yang paling sering disebut ketika bicara soal perempuan, pendidikan, dan kemajuan. Namun, Kartini bukan sekadar simbol peringatan tahunan. Lewat kumpulan suratnya yang dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, ia meninggalkan jejak pemikiran yang jauh lebih luas daripada sekadar kisah emansipasi perempuan.
Buku itu terbit pertama kali pada 1911, beberapa tahun setelah Kartini wafat. Dari surat-surat pribadi kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, pembaca menemukan sosok Kartini yang kritis, ingin tahu, dan punya pandangan tajam terhadap keadaan masyarakat jajahan. Ia tidak hanya berbicara tentang nasib perempuan Jawa, tetapi juga tentang pendidikan, ketimpangan sosial, dan masa depan manusia yang lebih adil.
Kartini dan Gagasan Kemajuan
Di awal abad ke-20, Hindia-Belanda sedang berada dalam pusaran perubahan. Kaum terpelajar mulai tumbuh, organisasi modern bermunculan, dan kesadaran untuk melawan ketidakadilan kolonial perlahan menguat. Dalam konteks itulah, Habis Gelap Terbitlah Terang hadir sebagai bacaan penting.
Kartini menyerap pengetahuan modern dari bacaan-bacaan Eropa, lalu memakainya untuk mengkritik feodalisme dan kolonialisme yang membelenggu masyarakat. Ia melihat pendidikan sebagai pintu utama menuju kemajuan. Bagi Kartini, perempuan tidak boleh terus diposisikan sebagai pihak yang lemah dan dibatasi ruang geraknya.
Pemikiran itu membuat namanya cepat dikenal di kalangan terpelajar. Buku catatan Budi Utomo, misalnya, menunjukkan bahwa Kartini dipandang sebagai sosok yang berpengaruh dalam membangkitkan kesadaran baru. Di kalangan pergerakan Indonesia di Belanda, Kartini bahkan disebut sebagai pelopor emansipasi perempuan Indonesia.
Pengaruh yang Melampaui Jawa
Jejak Kartini juga terlihat dalam berbagai kelompok diskusi dan perkumpulan yang memakai namanya. Di Bandung, misalnya, ada Raden Adjeng Kartini-Club yang menjadi ruang berbincang soal pembaruan birokrasi dan otonomi. Meski bukan organisasi politik secara langsung, nama Kartini jelas menjadi bagian dari iklim intelektual pergerakan saat itu.
Inilah yang membuat Kartini berbeda. Ia tidak memimpin perang fisik seperti Diponegoro, Hasanuddin, Pattimura, atau Tjut Nyak Dhien. Namun, pengaruhnya bergerak lewat gagasan. Dalam sejarah gerakan modern, pemikiran seperti ini sama pentingnya dengan perlawanan bersenjata. Kartini menunjukkan bahwa perubahan juga bisa lahir dari pena, bukan hanya dari senjata.