Bursa Eropa Menguat Saat Iran Nyatakan Selat Hormuz Kembali Terbuka
- ig.com
Sejumlah emiten besar di sektor barang mewah seperti LVMH, Hermes, dan Kering masing-masing naik lebih dari 1,5 persen. Kenaikan ini datang setelah saham-saham tersebut sempat melemah di awal pekan akibat peringatan bahwa konflik berdampak pada penjualan.
Maskapai juga mencatat pemulihan tajam. Ryanair, Lufthansa, dan easyJet menguat antara 6 persen hingga 7,5 persen. Pergerakan ini sejalan dengan turunnya harga minyak, yang langsung memengaruhi proyeksi biaya bahan bakar penerbangan. Selain itu, pelemahan harga energi juga dinilai bisa membantu memperbaiki minat pemesanan setelah sebelumnya tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian global.
Di luar itu, indeks kedirgantaraan dan pertahanan naik 3,1 persen, sementara saham perbankan zona euro bertambah 3,3 persen. Kenaikan sektor perbankan menunjukkan bahwa sentimen risiko di pasar membaik secara lebih luas, bukan hanya terbatas pada saham yang terkait langsung dengan energi.
Saham energi justru tertekan saat minyak turun
Berbeda dengan mayoritas sektor lain, saham energi bergerak melemah. Indeks sektor energi turun 4,2 persen seiring penurunan harga minyak yang mengurangi potensi pendapatan perusahaan energi besar.
Shell turun 5,6 persen, sedangkan BP melemah 7,4 persen. Penurunan ini memperlihatkan bagaimana sentimen positif di pasar saham tidak selalu berlaku merata. Saat risiko geopolitik menurun, harga minyak bisa ikut turun, dan hal itu justru menekan emiten yang sangat bergantung pada kenaikan harga komoditas energi.
Sektor utilitas juga terkoreksi 1,4 persen. Di luar pergerakan sektoral yang dipengaruhi situasi Timur Tengah, ada juga pergerakan individual yang cukup tajam. Alstom anjlok 27 persen setelah produsen kereta asal Prancis itu menarik proyeksi arus kas tiga tahunnya. Ini menjadi peringatan besar kedua terkait kas sejak akhir 2023.
Sementara itu, Delivery Hero naik 5,2 persen setelah Uber meningkatkan kepemilikannya di perusahaan pemesanan makanan daring tersebut. Kenaikan ini menunjukkan bahwa di tengah sentimen makro dan geopolitik, faktor korporasi tetap menjadi penggerak penting untuk saham individual.
Presiden ECB Christine Lagarde pada saat yang sama mengatakan bank sentral perlu tetap waspada karena perang berpotensi menekan pertumbuhan zona euro dan mendorong inflasi melampaui proyeksi yang telah direvisi naik. Dengan demikian, meski pasar merespons positif pembukaan Selat Hormuz, risiko terhadap ekonomi Eropa belum sepenuhnya hilang dan tetap akan dipantau lewat perkembangan energi, inflasi, dan kebijakan moneter.