Harga Smartphone Naik Tak Pengaruhi Penjualan; Strategi 'Pay Later' Jadi Kunci
- Istimewa
- Istimewa
- Penjualan tetap naik meskipun harga smartphone mengalami koreksi imbas kelangkaan RAM dan chip.
- Metode pembayaran cicilan (pay later) menjadi faktor utama pendorong daya beli konsumen.
- Prioritas pembelian beralih ke spesifikasi performa tinggi (RAM besar) untuk kebutuhan gaming dan edukasi.
Meskipun rantai pasokan global menghadapi kendala dan menyebabkan kelangkaan chip, harga smartphone di pasaran menunjukkan tren kenaikan. Menariknya, kondisi ini sama sekali tidak menyurutkan minat masyarakat untuk membeli perangkat baru. Faktanya, penjualan smartphone justru tetap mengalami peningkatan di beberapa seri kunci.
Fenomena unik ini terungkap dari pantauan di salah satu gerai penjualan ponsel, Erafone Islamic Tangerang. Promotor Samsung di gerai tersebut, Yosen, menjelaskan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat. Sebagai contoh, harga Samsung A07 naik dari Rp1.650.000 menjadi Rp1.699.000. Namun, kenaikan minor ini terbukti tidak signifikan membebani konsumen.
Yosen mencatat kenaikan penjualan yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir. Dia mampu menjual antara 25 hingga 35 unit smartphone per bulan untuk semua merek. Angka ini menegaskan betapa mendesaknya kebutuhan teknologi di tengah masyarakat.
Strategi Cicilan: Kunci Stabilitas Penjualan Smartphone
Konsumen saat ini memiliki pertimbangan berbeda saat membeli ponsel. Mereka tidak hanya fokus pada harga awal. Mereka mencari cara pembayaran yang paling meringankan beban finansial.
Pembeli kini sangat menyukai fitur pay later atau metode pembayaran cicilan. Sistem ini secara efektif menghilangkan beban finansial besar di awal transaksi. Alhasil, kenaikan harga kecil tidak terasa memberatkan bagi mereka yang memilih mencicil. Kemudahan ini menjadi penopang utama daya beli di tengah gejolak harga.
Prioritas Spesifikasi Unggulan
Selain mempertimbangkan metode pembayaran fleksibel, konsumen juga sangat memerhatikan spesifikasi teknis. Mereka memastikan ponsel baru yang dibeli sesuai dengan kebutuhan performa masa kini.
Secara spesifik, kualitas kamera, performa chipset, dan kapasitas RAM besar menjadi fokus utama. Pembeli membutuhkan perangkat yang responsif dan mampu mendukung berbagai aktivitas berat.
Mengapa Permintaan Tetap Tinggi? Fokus pada Gaming dan Edukasi
Kebutuhan masyarakat terhadap smartphone memang terus meningkat setiap tahun. Peningkatan permintaan ini didorong oleh dua segmen besar konsumen dengan kebutuhan berbeda, yaitu anak muda dan orang tua.
Dominasi Kebutuhan Performa Tinggi
Kebanyakan pembeli muda mencari ponsel dengan kinerja optimal, terutama terkait dengan kapasitas penyimpanan dan performa grafis. Mereka mayoritas membeli ponsel baru untuk kebutuhan bermain game online. Oleh sebab itu, spesifikasi RAM dan performa menjadi indikator penting bagi segmen ini.
Ponsel Terjangkau untuk Pendidikan
Sementara itu, kebutuhan smartphone juga melonjak di kalangan orang tua. Mereka mencari ponsel untuk mendukung aktivitas belajar anak-anak, terutama para pelajar. Orang tua cenderung mencari perangkat dengan harga relatif terjangkau, namun tetap menjamin performa yang stabil.
Prediksi Tren Penjualan Smartphone dan Analisis Akhir
Melihat tren pembelian dan minat konsumen yang solid, Yosen memprediksi beberapa seri ponsel akan laris manis ke depannya. Seri premium seperti Samsung S26 dan iPhone 17 diproyeksikan akan mencatatkan lonjakan penjualan.
Meskipun terjadi fluktuasi harga di tahun 2026, Yosen menegaskan bahwa faktor kebutuhan jauh lebih dominan. Kebutuhan akan smartphone akan terus meningkat seiring kemajuan teknologi dan digitalisasi. Selain itu, kemudahan bertransaksi, terutama melalui sistem cicilan, menjamin bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga kuat. Kenaikan harga terbukti tidak mampu membendung laju pertumbuhan pasar ponsel pintar di Indonesia.