Grok Diblokir! Indonesia Ambil Langkah Tegas Lawan Deepfake Seksual
- Grok
Tanpa regulasi ketat dan teknologi deteksi yang andal, AI generatif berisiko menjadi alat normalisasi kekerasan seksual digital.
Pertanyaan Etis: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Kesalahan AI?
Kasus Grok memicu debat filosofis dan hukum yang mendalam:
- Apakah pengembang AI bertanggung jawab atas penyalahgunaan teknologinya?
- Bisakah “kebebasan berekspresi” digunakan sebagai tameng untuk membenarkan produksi konten merusak?
Elon Musk kerap membela Grok dengan argumen anti-sensor dan kebebasan informasi. Namun, seperti diingatkan Meutya Hafid, kebebasan tanpa tanggung jawab adalah anarki dan di ruang digital, anarki itu berwujud trauma nyata bagi korban.
Kesimpulan: Kedaulatan Digital Dimulai dari Perlindungan Warga
Pemblokiran sementara Grok bukanlah upaya mengekang teknologi melainkan upaya menjinakkannya. Indonesia memilih berdiri di sisi korban, bukan di sisi algoritma tanpa hati nurani.
Langkah Komdigi hari ini bisa menjadi preseden global: negara berdaulat berhak menolak teknologi yang mengancam hak dasar warganya, sekalipun itu datang dari raksasa Silicon Valley.
Di tengah euforia AI, Indonesia mengingatkan dunia:
Teknologi harus melayani manusia bukan sebaliknya.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |