Krisis Chipset Global Picu Kenaikan Harga Smartphone 15%

Krisis Chipset Global Picu Kenaikan Harga Smartphone 15%
Sumber :
  • Istimewa

Krisis Chip AI Hantam Pasar HP Murah: Spek Smartphone Entry-Level Terancam?
  • Harga smartphone diproyeksikan naik antara 5% hingga 15% sepanjang tahun ini, terutama dipicu kelangkaan chipset semikonduktor.
  • Peningkatan permintaan global dari sektor Kecerdasan Buatan (AI) menjadi penyebab utama tersedotnya kapasitas produksi pabrik chip.
  • Konsumen segmen menengah ke bawah berpotensi menunda pembelian akibat sensitivitas harga yang tinggi.
  • Produsen harus melakukan diversifikasi pemasok dan efisiensi desain produk untuk memitigasi tekanan biaya.

Pengiriman PC Global Melejit 9,6% Q4/2025, Ancaman Kelangkaan Memori Mengintai

Para konsumen bersiap menghadapi lonjakan biaya perangkat pintar. Proyeksi kenaikan harga smartphone pada tahun ini mencapai kisaran 5% hingga 15%. Kelangkaan pasokan chipset semikonduktor global menjadi pemicu utama tren kenaikan harga ini. Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, menyatakan tekanan biaya produksi semakin membesar. Kenaikan tersebut juga dipengaruhi oleh lonjakan permintaan dari industri Kecerdasan Buatan (AI) yang masif menyerap pasokan chip.

Heru menjelaskan, kenaikan ini tergantung pada segmen produk. Ponsel kelas menengah hingga premium yang memakai chipset berperforma tinggi akan mengalami kenaikan harga lebih signifikan. Sementara itu, harga di segmen entry-level cenderung lebih tertahan.

Kejutan! Qualcomm Lirik Samsung untuk Produksi Chip 2nm

Mengapa Harga Smartphone Naik? Analisis Krisis Chipset

Industri ponsel menghadapi tantangan biaya yang kompleks. Fenomena kelangkaan chipset menjadi akar masalah utama. Terbatasnya pasokan ini bukan hanya disebabkan oleh masalah rantai pasok tradisional.

Pengaruh Dominasi Industri AI

Lonjakan permintaan dari industri AI global telah mengubah peta alokasi produksi semikonduktor. Kapasitas pabrik chip kini banyak dialihkan untuk memenuhi kebutuhan komputasi performa tinggi. Otomatis, pasokan chipset untuk industri smartphone menjadi terbatas.

Presiden Xiaomi, Lu Weibing, juga telah memperingatkan tekanan biaya pada industri ini. Ia menyebut tekanan biaya pada 2026 akan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Tekanan Biaya Logistik dan Bahan Baku

Selain isu chipset, biaya produksi terbebani oleh faktor eksternal lain. Heru Sutadi menjelaskan fluktuasi nilai tukar mata uang, serta biaya logistik yang tinggi, memperbesar tekanan.

Selain itu, harga bahan baku penting seperti memori dan sensor kamera turut melonjak. Faktor-faktor ini semakin memperparah situasi dan memaksa produsen menyesuaikan harga ritel.

Dampak Kenaikan Harga pada Daya Beli Konsumen

Kenaikan harga ritel ini tentu memberikan pukulan berat bagi daya beli masyarakat. Banyak konsumen akan merespons perubahan harga tersebut dengan melakukan penyesuaian perilaku pembelian.

Analisis Segmen Pasar yang Paling Tertekan

Kenaikan harga diprediksi menekan volume penjualan, terutama pada segmen menengah ke bawah. Segmen pasar ini sangat sensitif terhadap perubahan harga. Konsumen cenderung menunda pembelian atau memperpanjang siklus penggantian ponsel mereka.

Namun demikian, dampaknya tidak merata. Segmen premium relatif lebih tahan terhadap tekanan. Konsumen di segmen ini lebih mengutamakan spesifikasi dan kekuatan merek ketimbang harga semata. Walaupun demikian, kebutuhan digital masyarakat yang terus meningkat masih menjadi penopang permintaan dasar pasar secara keseluruhan.

Counterpoint Research memprediksi pengiriman smartphone global akan turun 2,1% pada 2026. Penurunan ini dipicu oleh kenaikan biaya komponen yang melemahkan daya beli konsumen.

Strategi Mitigasi Produsen dan Peran Pemerintah

Dalam menghadapi tekanan biaya, produsen perlu menerapkan langkah strategis. Tujuannya adalah menjaga minat beli konsumen dan efisiensi operasional.

Heru Sutadi menyarankan beberapa opsi. Produsen dapat melakukan diversifikasi pemasok chipset untuk mengurangi risiko ketergantungan. Mereka juga perlu mengoptimalkan desain produk agar lebih efisien dari sisi biaya. Perluasan lini produk dengan spesifikasi seimbang dan harga terjangkau juga menjadi kunci. Selain itu, program cicilan, bundling dengan operator, dan promosi agresif juga berperan penting.

Di sisi lain, pemerintah memegang peranan krusial. Pemerintah dapat memberikan insentif fiskal bagi industri perakitan lokal. Percepatan pengembangan industri semikonduktor dalam negeri juga menjadi investasi jangka panjang. Stabilisasi nilai tukar dan biaya logistik harus menjadi prioritas. Kolaborasi antara pemerintah dan industri merupakan kunci untuk menjaga daya beli sekaligus mendorong kemandirian rantai pasok nasional.

Proyeksi Pasar Global di Tengah Tekanan Biaya

Kenaikan biaya material (Bill of Materials/BoM) menekan seluruh industri smartphone. Direktur Riset Counterpoint, MS Hwang, menjelaskan segmen pasar kelas bawah (di bawah US$200) menjadi yang paling terdampak.

Secara keseluruhan, pasar kemungkinan mengalami perlambatan pertumbuhan. Heru Sutadi menekankan bahwa perlambatan tersebut tidak akan menjadi penurunan tajam. Ini terjadi selama kenaikan harga masih dalam batas wajar dan tidak berlangsung berkepanjangan.

Tantangan Rantai Pasok dan Masa Depan Industri

Industri harus beradaptasi cepat terhadap dinamika geopolitik dan teknologi. Kelangkaan chipset yang dipicu oleh AI menunjukkan persaingan sumber daya yang ketat antar sektor.

Kondisi ini memaksa produsen untuk lebih kreatif dalam mengelola rantai pasok. Mereka juga harus menemukan keseimbangan antara inovasi spesifikasi dan keterjangkauan harga produk. Langkah mitigasi yang terencana menjadi penentu daya saing industri smartphone di tengah tekanan global ini.