Meutya Hafid: Transformasi Digital ASEAN Harus Utamakan Akses Merata
- Istimewa
Literasi dan Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) Kunci Utama
Infrastruktur jaringan, meskipun vital, bukanlah satu-satunya penentu kesiapan digital. Meutya menekankan bahwa percepatan pembangunan jaringan tidak akan memberikan dampak optimal tanpa peningkatan kemampuan SDM.
Peningkatan literasi digital wajib menjadi program prioritas, khususnya bagi generasi muda. Bonus demografi hanya dapat dimanfaatkan jika angkatan kerja tersebut terampil. Maka dari itu, negara-negara ASEAN perlu melihat seberapa cepat mereka mampu mengedukasi dan meliterasi rakyatnya.
Memperkuat Konektivitas Regional Melalui DEFA
Dalam kesempatan yang sama, Meutya menyoroti upaya ASEAN dalam memperkuat fondasi ekonomi digital bersama. Upaya ini diwujudkan melalui pembentukan Digital Economic Framework Agreement (DEFA).
Kerangka perjanjian ini dirancang sebagai perjanjian perdagangan digital sekaligus sebagai “sistem operasi” kawasan. DEFA berfungsi memperkuat konektivitas digital lintas negara anggota. Implementasi sistem pembayaran QRIS yang kini dapat digunakan di Thailand dan Malaysia, menunjukkan contoh konkret dari interoperabilitas digital ASEAN.
Proyeksi Strategis dan Arah Kebijakan Jangka Panjang
Selain integrasi digital, Meutya Hafid menekankan bahwa posisi netral ASEAN dalam dinamika geopolitik global menjadi kekuatan strategis tersendiri. Netralitas tersebut menjamin bahwa kawasan Asia Tenggara selalu terbuka bagi seluruh dunia.
Netralitas ini memberikan kepastian investasi dan kerja sama digital. Pada akhirnya, keberhasilan Transformasi Digital ASEAN tidak ditentukan oleh seberapa besar dana yang berputar. Keberhasilan riil diukur dari seberapa banyak warga negara—dari perkotaan hingga pulau terpencil—yang mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup. Pendekatan holistik ini menjadi landasan kebijakan jangka panjang ASEAN.