Tsunami AI Ancam Pekerjaan Global: IMF Wanti 60% Terdampak
- Istimewa
Georgieva menegaskan bahwa dunia belum siap menghadapi dampak sosial ekonomi AI secara utuh. Kurangnya kerangka regulasi yang solid menjadi penghalang utama.
Pemerintah perlu memastikan AI bersifat inklusif, bukan hanya menguntungkan segelintir perusahaan teknologi besar. Georgieva mengingatkan semua pihak agar sadar bahwa AI adalah nyata dan mengubah dunia jauh lebih cepat dari yang diantisipasi.
Tantangan Kerja Sama Internasional
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, menambahkan perspektif mengenai tantangan geopolitik. Lagarde menyebut ketegangan antarnegara dan minimnya kerja sama global bisa menghambat perkembangan AI yang optimal.
AI membutuhkan modal besar, energi, dan data dalam jumlah masif. Jika negara-negara tidak bekerja sama menyepakati aturan bersama, sumber daya akan terbatas dan ketimpangan akan meningkat tajam. Lagarde juga memperingatkan bahwa AI justru berpotensi memperlebar jurang antara negara maju dan berkembang.
Analisis Prospek: Kebutuhan Inklusivitas dan Kepercayaan Publik
Untuk mengatasi risiko yang dibawa oleh Tsunami AI Ancam Pekerjaan, langkah kebijakan yang cepat dan terkoordinasi sangat penting. Analisis menunjukkan bahwa fokus tidak hanya pada regulasi keamanan, tetapi juga distribusi manfaat teknologi.
CEO Microsoft, Satya Nadella, sebelumnya pernah mengingatkan bahaya kehilangan kepercayaan publik. Hal ini terjadi jika AI hanya memberi keuntungan bagi perusahaan teknologi besar, tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, misalnya percepatan penemuan obat atau solusi bagi masalah global. Oleh karena itu, memastikan AI inklusif adalah kunci untuk mengelola transformasi pasar tenaga kerja yang masif ini.