Ledakan Pusat Data AI Ancaman Serius bagi Komitmen Iklim Global
- Istimewa
- Pusat data berbasis AI mendorong lonjakan 31% kapasitas pembangkit gas global pada 2025.
- Amerika Serikat menjadi penyumbang kenaikan terbesar, melebihi China.
- Peningkatan penggunaan gas berisiko mengunci emisi metana di masa depan dan menghambat target iklim Perjanjian Paris.
- Para ahli mengingatkan adanya potensi aset gas terbengkalai jika permintaan listrik AI tidak terwujud.
Ledakan masif teknologi kecerdasan buatan (AI) secara tak terduga memicu lonjakan permintaan energi fosil global. Kapasitas listrik yang dibutuhkan oleh ekosistem `Pusat Data AI` dunia telah mendorong industri gas alam kembali berjaya. Meskipun demikian, situasi ini membawa konsekuensi serius. Peningkatan pembangunan pembangkit gas alam mengancam komitmen iklim global dan upaya mencapai net zero emission.
Amerika Serikat Pimpin Lonjakan Permintaan Gas Global
Data terbaru menunjukkan kapasitas pembangkit listrik tenaga gas secara global diperkirakan melonjak tajam 31% pada tahun 2025. Ironisnya, Amerika Serikat (AS) memimpin kenaikan ini. AS kini melampaui China sebagai kontributor terbesar penambahan kapasitas gas di dunia.
Ketergantungan Energi Pusat Data AI
Analisis mendalam dari Global Energy Monitor (GEM) memperlihatkan sebuah pola yang mengkhawatirkan. Lebih dari sepertiga (33%) dari pertumbuhan pembangkit gas di AS dialokasikan secara spesifik. Tujuannya adalah menyuplai kebutuhan listrik fasilitas `Pusat Data AI` yang terus berkembang.
Ledakan di sektor pusat data, terutama yang didorong oleh AI generatif, memicu perkiraan lonjakan permintaan listrik yang sangat tinggi. Perusahaan teknologi berpacu cepat memasang perangkat keras canggih di pusat data baru mereka.
Risiko Iklim: Ancaman Emisi Metana dan Aset Terbengkalai
Jenny Martos, Manajer proyek Global Oil and Gas Plant Tracker dari GEM, menekankan bahaya besar ini. Pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas berisiko menghambat total transisi global menuju sumber energi yang lebih bersih.
Semakin banyak gas yang digunakan, semakin besar pula polusi dihasilkan. Dampaknya, kontribusi terhadap pemanasan global pun meningkat signifikan.
Jebakan Metana
Gas memang lebih murah dan menghasilkan emisi karbon dioksida lebih rendah dibanding batu bara. Namun, proses produksinya melepaskan metana. Metana merupakan gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida.