Spekulasi Aplikasi Tokopedia Tutup Mencuat, Ini Jawaban Tegas TikTok

Spekulasi Aplikasi Tokopedia Tutup Mencuat, Ini Jawaban Tegas TikTok
Sumber :
  • Istimewa

Tokopedia TikTok Shop Blokir 250.000 Akun, Rilis Fitur Baru
  • Rumor penutupan aplikasi Tokopedia muncul di media sosial X, memicu spekulasi pengalihan penuh ke TikTok Shop.
  • TikTok membantah rumor tersebut secara implisit, menegaskan komitmen investasi jangka panjang di Tokopedia dan pasar Indonesia.
  • Akuisisi TikTok senilai US$1,5 miliar telah mendorong GMV TikTok Shop tumbuh hampir empat kali lipat pada tahun 2023.
  • Proses integrasi bisnis disertai perampingan organisasi yang berdampak pada ratusan karyawan di lini e-commerce.

idEA Desak Kajian Mendalam Revisi Permendag 31/2023

Spekulasi mengenai penutupan total aplikasi Tokopedia kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat. Rumor ini menyebar cepat di media sosial X, mengaitkannya dengan upaya dominasi TikTok Shop pasca-akuisisi. Informasi tersebut sontak memicu pertanyaan besar mengenai nasib platform e-commerce lokal terbesar di Indonesia.

Menanggapi isu sensitif ini, TikTok akhirnya angkat bicara. Raksasa teknologi asal China tersebut secara tegas menyatakan bahwa mereka akan terus berinvestasi besar di Tokopedia dan Indonesia. Pernyataan ini sekaligus membantah kabar bahwa Aplikasi Tokopedia Tutup dan sepenuhnya dialihkan ke platform terpisah.

Regulasi Baru: Kemendag Kaji Aturan Biaya Admin E-commerce Shopee-Tokopedia

Komitmen Investasi TikTok dan Bantahan Rumor Penutupan

Juru Bicara TikTok menegaskan fokus jangka panjang perusahaan. Mereka menyebut investasi di Tokopedia menjadi bagian integral dari strategi bisnis. Tujuannya adalah mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan di pasar digital Indonesia.

"Kami terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia. Ini adalah bagian dari strategi kami untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan," jelas Juru Bicara TikTok baru-baru ini.

Isu penutupan Tokopedia pertama kali viral dari unggahan akun media sosial X yang kerap membahas industri teknologi. Akun tersebut menyebutkan bahwa teman-teman internal di Tokopedia menginformasikan rencana penghapusan aplikasi Tokopedia. Mereka juga mengklaim TikTok Shop akan berdiri dengan aplikasi terpisah.

Integrasi Bisnis Pasca Akuisisi

TikTok telah menggelontorkan dana fantastis sebesar US$1,5 miliar (sekitar Rp23 triliun). Mereka mengakuisisi 75,01% saham Tokopedia pada awal Januari 2024. Sejak saat itu, kedua perusahaan langsung melakukan penyesuaian bisnis besar-besaran.

Upaya penyesuaian mencakup rasionalisasi organisasi hingga peluncuran kampanye masif. Kampanye ini berfokus mendorong penjualan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.

Akuisisi ini terbukti strategis. Laporan Momentum Works bertajuk Ecommerce in Southeast Asia 2024 mencatat lonjakan GMV (Gross Merchandise Value) TikTok Shop. GMV platform tersebut meningkat hampir empat kali lipat, dari US$4,4 miliar pada 2022 menjadi US$16,3 miliar pada 2023. Angka ini menjadikan TikTok Shop platform e-commerce terbesar kedua di Asia Tenggara.

Tantangan Integrasi dan Sorotan Regulasi

Meskipun investasi dan pertumbuhan GMV melonjak, proses integrasi juga memicu tantangan. Induk perusahaan TikTok, ByteDance, melakukan perampingan organisasi pada Juni 2024. Kabar menyebutkan sekitar 450 karyawan di lini bisnis e-commerce TikTok–Tokopedia terdampak kebijakan ini.

Direktur Corporate Affairs Tokopedia dan TikTok Shop, Nuraini Razak, mengonfirmasi penyesuaian tersebut. Ia menyatakan perusahaan mengidentifikasi area yang perlu diperkuat. Langkah ini bertujuan menyelaraskan tim demi memenuhi tujuan bisnis pasca-penggabungan.

Proteksi UMKM Lokal dari Gempuran Impor

Di tengah dinamika pasar digital, isu dominasi platform asing tetap menjadi perhatian pemerintah. Staf Khusus Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) Bidang Pemberdayaan Ekonomi Kreatif, Fiki Satari, menyoroti kendali e-commerce. Ia menyebut hampir 80% ekonomi digital e-commerce di Indonesia dikuasai oleh platform asing pasca-akuisisi.

Fiki juga menyoroti masalah peredaran produk impor di platform digital. Data Kemenkop UKM menunjukkan sekitar 74% produk yang beredar di e-commerce merupakan barang impor. Pengawasan ketat diperlukan untuk memastikan produk tersebut mencantumkan nomor impor resmi.

Masa Depan E-commerce dan Keberlanjutan Investasi

Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama melakukan pengawasan. Hal ini penting untuk melindungi produk lokal dari gempuran barang impor yang dijual secara daring. Di sisi lain, Tokopedia dan TikTok Shop terus mengintensifkan inisiatif. Mereka berupaya meningkatkan penjualan produk lokal pelaku UMKM Indonesia.

Komitmen TikTok untuk terus berinvestasi di Tokopedia mengirimkan sinyal kuat kepada pasar. Sinyal ini menunjukkan bahwa integrasi dua raksasa e-commerce tersebut belum selesai. TikTok mempertahankan Tokopedia sebagai entitas yang penting dalam strategi pertumbuhan global mereka, sekaligus menepis isu sensasional mengenai penutupan aplikasi secara sepihak. Mereka fokus pada pasar digital Indonesia yang sangat kompetitif.