Krisis! 90% Impor Dominasi E-commerce, UMKM Lokal Terancam Gulung Tikar
- Istimewa
Tekanan Bahan Baku dan Tren Impor Bebas
Selain gempuran produk impor jadi, penjual e-commerce lokal menghadapi tekanan ganda. Kenaikan harga bahan baku, yang sebagian besar masih harus diimpor (misalnya bahan baku tekstil), seharusnya mendorong kenaikan harga jual ke konsumen.
Ironisnya, harga barang jadi justru terus tertekan. Ketatnya persaingan produk impor e-commerce dan melimpahnya produk murah domestik menciptakan dilema besar. Penjual harus menjual rugi atau gulung tikar.
Aldo juga menyoroti maraknya konten edukasi di media sosial. Konten ini mengajak masyarakat untuk menjadi importir dengan iming-iming keuntungan besar. Menurutnya, tren tersebut akhirnya hanya menjual kelas edukasi impor. Praktik ini pada akhirnya memperburuk kondisi ekonomi nasional karena makin banyak barang masuk ke Indonesia tanpa kontrol.
Analisis dan Harapan Masa Depan
Struktur UMKM nasional menunjukkan kerentanan ini. Sebanyak 99,71% dari UMKM didominasi usaha mikro. Hal ini menjadi tantangan besar dalam memperkuat daya saing produk dalam negeri.
Sebelumnya, data Kementerian UMKM memperlihatkan produk impor dijual dengan harga tak wajar. Contohnya, kerudung seharga Rp6.997 per pcs atau kemeja Rp20.000 per pcs. Di sisi lain, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2025 masih didominasi skema mikro (69,8%).
Padahal, kontribusi UMKM Lokal terhadap ekspor nonmigas nasional baru mencapai 15,7%. Partisipasi Indonesia dalam Global Value Chain (GVC) juga masih rendah, yakni di level 4,1%.
UMKM lokal sangat berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis. Mereka memerlukan edukasi dan pendampingan intensif agar mampu menembus pasar ekspor. Penguatan UMKM yang berorientasi ekspor dapat menjadi solusi efektif untuk memperkuat perekonomian nasional, alih-alih terus berperang dengan persaingan produk impor e-commerce di pasar domestik.