ATSI: Frekuensi 700 MHz & 2,6 GHz Jangan Khusus untuk 5G
- Istimewa
- ATSI menolak pengkhususan frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz hanya untuk layanan 5G.
- Penetrasi ponsel 5G di Indonesia masih rendah, yakni hanya sekitar 30 persen.
- Kewajiban khusus 5G berpotensi memicu pemborosan investasi bagi operator seluler.
- Lelang frekuensi diharapkan tidak menciptakan dominasi oleh satu operator besar saja.
Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) secara tegas menolak rencana pengkhususan spektrum frekuensi 5G baru pada pita 2,6 GHz dan 700 MHz hanya untuk satu teknologi. Sekretaris Jenderal ATSI, Merza Fachys, menyampaikan keberatan ini demi menjaga efisiensi investasi di tengah beragamnya kondisi geografis Indonesia.
Merza menekankan bahwa persoalan utama terletak pada efektivitas pemanfaatan jaringan. Karakteristik penduduk yang sangat beragam menuntut fleksibilitas teknologi yang lebih dinamis. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah harus mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat secara luas.
Penetrasi Perangkat Hambat Jaringan 5G di Indonesia
Hingga saat ini, tingkat penetrasi ponsel pintar yang mendukung teknologi 5G masih tergolong rendah. Merza mengungkapkan bahwa mayoritas operator seluler mencatat angka adopsi baru menyentuh angka 30 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih menggunakan perangkat lama. Penggunaan frekuensi yang hanya terbatas untuk 5G di wilayah dengan adopsi rendah akan menjadi langkah yang sia-sia.
"Akhirnya sia-sia juga kalau di daerah tertentu populasi handset 5G baru mencapai 2 sampai 5 persen," ujar Merza dalam forum diskusi di Jakarta.
Risiko Ekonomi dan Ketimpangan Digital
Jika pemerintah mewajibkan frekuensi baru hanya untuk 5G, operator harus membangun infrastruktur yang sangat mahal. Padahal, pemanfaatan jaringan tersebut belum tentu optimal secara ekonomi.
Langkah ini justru berisiko menjadi kontraproduktif bagi iklim investasi telekomunikasi. Biaya modal yang tinggi tanpa diimbangi pendapatan yang sepadan akan menekan stabilitas finansial perusahaan operator.
Selain itu, kewajiban tersebut memaksa ketersediaan jaringan 5G di pelosok daerah. Padahal, kebutuhan mendesak masyarakat di wilayah tersebut mungkin masih bisa terpenuhi oleh jaringan 4G yang lebih terjangkau.
Mewaspadai Dominasi Spektrum dalam Lelang
ATSI juga menaruh perhatian serius pada mekanisme lelang spektrum 2,6 GHz dan 700 MHz mendatang. Mereka berharap proses seleksi tidak memicu harga yang tidak masuk akal atau terlalu mahal.