Rahasia Geologi: Superbenua Pecah Picu 'Semburan Berlian' ke Bumi

Rahasia Geologi: Superbenua Pecah Picu 'Semburan Berlian' ke Bumi
Sumber :
  • DAILY

Danau Hillier: Fenomena Alam yang Memukau dengan Air Merah Muda yang Misterius
  • Fenomena 'semburan berlian' terlontar ke permukaan Bumi akibat peristiwa geologi masif.
  • Pecahnya superbenua menciptakan ketidakstabilan internal yang memicu letusan gunung berapi eksplosif.
  • Letusan kimberlit, pembawa berlian, terjadi secara periodik 22 hingga 30 juta tahun setelah lempeng terpisah.
  • Penemuan ini memberikan panduan baru untuk pencarian deposit berlian yang belum dieksplorasi secara global.

Fenomena Langka: Dua Gerhana Hiasi Langit Ramadan 2024, Apakah Bakal Kiamat?

Alam menyimpan kejutan geologi yang luar biasa di bawah permukaan. Penelitian baru menunjukkan bahwa 'semburan berlian' dapat terlontar ke permukaan Bumi sebagai bagian dari perpecahan benua kuno. Para ilmuwan mengkonfirmasi bahwa letusan kimberlit yang eksplosif menjadi mekanisme utama yang mengangkut material berharga ini.

Profesor Thomas Gernon, seorang ahli ilmu bumi dan iklim dari Universitas Southampton, memimpin studi penting ini. Gernon dan timnya menemukan korelasi kuat antara pecahnya superbenua dan kemunculan ledakan material dari kedalaman inti Bumi. Fenomena ini menjelaskan secara spesifik bagaimana deposit berlian dapat mencapai lapisan permukaan yang kita pijak.

Apple Dominasi Pasar Smartphone 2025: Raih 20% Pangsa Global

Mekanisme Geologi di Balik Letusan Kimberlit

Berlian terbentuk dalam kondisi ekstrem, sekitar 150 kilometer di bawah permukaan Bumi. Material ini membutuhkan dorongan yang sangat kuat untuk mencapai permukaan. Para peneliti menunjuk pada letusan kimberlit sebagai penggerak utama proses tersebut.

Letusan kimberlit merupakan fenomena geologi yang sangat eksplosif. Ledakan ini dapat mencapai kecepatan fantastis, hingga 133 kilometer per jam. Kekuatan luar biasa ini menciptakan ledakan dahsyat di permukaan, membawa serta batuan dan mineral langka, termasuk berlian.

Waktu Ideal Setelah Perpecahan Superbenua

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature ini secara spesifik menganalisis waktu letusan kimberlit. Penelitian Gernon dan timnya menunjukkan bahwa letusan semacam ini memiliki pola keteraturan.

Erupsi secara konsisten terjadi sekitar 22 juta hingga 30 juta tahun setelah lempeng-lempeng bumi mulai mengalami pemisahan. Pola waktu ini sangat penting bagi geolog.

Salah satu contoh paling jelas terjadi sekitar 25 juta tahun setelah superbenua Gondwana mulai terpecah. Perpecahan Gondwana membentuk wilayah yang kini dikenal sebagai Afrika dan Amerika Selatan. Pergeseran lempeng-lempeng ini menciptakan ketidakstabilan dramatis.

Pergerakan lempeng menyebabkan batuan dari mantel atas dan kerak bawah bercampur dan mengalir. Aliran ini menciptakan ketidakstabilan internal yang masif. Pada akhirnya, ketidakstabilan tersebut memicu letusan gunung berapi kimberlit. Batuan, air, karbon dioksida, dan mineral seperti berlian bergabung, menciptakan dorongan eksplosif yang melontarkan 'semburan berlian' menuju permukaan.

Analisis Mendalam untuk Pencarian Berlian yang Belum Tereksplorasi

Penemuan ini membawa implikasi besar bagi industri eksplorasi mineral. Dengan memahami mekanisme pemicu ini, para peneliti berharap dapat memandu pencarian deposit berlian yang belum pernah ditemukan.

"Berlian-berlian itu telah berada di dasar benua selama ratusan juta atau bahkan miliaran tahun," jelas Profesor Gernon. "Pasti ada semacam rangsangan mendadak yang mendorongnya keluar."

Gernon menekankan bahwa letusan kimberlit sendiri sangat kuat dan eksplosif. Dengan memetakan area geologi yang mengalami perpecahan superbenua dalam rentang waktu 22 hingga 30 juta tahun, ahli geologi kini memiliki petunjuk presisi untuk menargetkan lokasi eksplorasi baru. Penelitian ini mengubah cara kita memahami dan mencari harta karun di bawah permukaan Bumi.