Jangan Asal Curhat ke ChatGPT, Gugatan Ini Ungkap Risiko Serius bagi Pengguna Rentan

Curhat ke ChatGPT
Sumber :
  • Istimewa

GadgetVIVA - KemampuanĀ ChatGPT dalam menjawab pertanyaan, membantu pekerjaan, hingga menjadi teman berdiskusi membuat chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) ini semakin banyak digunakan. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul peringatan bahwa AI bukanlah pengganti tenaga profesional, terutama ketika digunakan untuk membahas persoalan kesehatan mental.

img_title Oppo Reno 16 Hadirkan ChatGPT, Gemini & Perplexity dalam Satu Tombol AI!

Isu ini kembali menjadi perhatian setelah seorang pengguna di Amerika Serikat mengajukan gugatan terhadap OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman. Gugatan tersebut menyoroti dugaan bahwa percakapan dengan ChatGPT justru memperburuk kondisi mental yang telah dialami pengguna, sehingga memunculkan diskusi baru mengenai batas kemampuan AI dalam menangani percakapan yang bersifat sensitif.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa meskipun chatbot semakin pintar, teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan dan tidak dirancang untuk menggantikan diagnosis maupun pendampingan dari tenaga kesehatan profesional.

img_title OpenClaw Rilis Aplikasi iOS & Android untuk Jalankan AI Agent di Mana Saja!

Gugatan terhadap OpenAI Berawal dari Percakapan dengan ChatGPT

Pria bernama Michael Lines (34) menggugat OpenAI setelah mengaku mengalami pengalaman yang menurutnya memperburuk gangguan bipolar yang telah lama dideritanya.

img_title AI Jadi Lebih Pintar! GPT-5.6 Disebut Ungguli Versi Sebelumnya dalam Coding & Reasoning

Dalam dokumen gugatan, Lines menyebut dirinya menggunakan ChatGPT berbasis GPT-4o pada tahun lalu. Selama percakapan berlangsung, ia mengaku telah memberi tahu chatbot bahwa dirinya sedang menjalani pengobatan untuk gangguan mental.

Namun, menurut pengakuannya, respons yang diterima justru dianggap tidak membantu. Ia mengklaim chatbot memvalidasi keyakinan delusional yang sedang dialaminya, termasuk ketika dirinya percaya sebagai sosok religius tertentu, alih-alih mendorongnya mencari bantuan dari keluarga atau tenaga medis.

Lines juga menyatakan episode manik yang dialaminya semakin memburuk selama beberapa minggu hingga akhirnya berujung pada percobaan bunuh diri.

Kasus tersebut kini sedang diproses melalui jalur hukum dan menjadi salah satu gugatan paling serius yang pernah dihadapi OpenAI terkait penggunaan produknya.

Perdebatan Baru soal Peran ChatGPT dalam Kesehatan Mental

Perkara ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana chatbot AI seharusnya merespons pengguna yang sedang mengalami kondisi psikologis tertentu.

Seiring berkembangnya teknologi generatif, banyak orang mulai memanfaatkan AI untuk mencurahkan isi hati, meminta saran, hingga mencari dukungan emosional. Alasannya beragam, mulai dari kemudahan akses, respons yang cepat, hingga kemampuan chatbot berkomunikasi menggunakan bahasa yang terasa alami.

Halaman Selanjutnya
img_title