Shin Tae-yong Sampai Harus Bujuk Pemain Demi Timnas Indonesia, Tapi Tetap Disalahkan: “Nggak Ada Pilihan!”

Shin Tae-yong
Sumber :
  • tvonenews.com

Gadget – Nama Shin Tae-yong kembali menjadi sorotan publik. Setelah kabar pemecatannya dari kursi pelatih Timnas Indonesia ramai dibicarakan, kini muncul sisi lain perjuangannya yang jarang diketahui. Melalui pengakuan sang penerjemah, Jeong Seok Seo alias Jeje, terungkap bagaimana pelatih asal Korea Selatan itu berjuang keras menjaga semangat para pemain di saat situasi tim sedang genting.

Herdman Baru Latih Garuda, 3 Bintang Persib Ini Langsung Jadi Prioritas!

Dalam tayangan kanal YouTube Ruang Publik, Jeje membeberkan sebuah kisah emosional yang terjadi setelah laga imbang melawan Bahrain pada babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di tahun 2024. Saat itu, skuad Garuda harus bersiap menghadapi China hanya dalam waktu lima hari, sementara kondisi mental pemain belum sepenuhnya pulih.

Namun di tengah persiapan itu, muncul kabar mengejutkan: salah satu pemain penting dikabarkan ingin pulang dan menolak tampil dalam laga berikutnya.

John Herdman Latih Timnas Indonesia, Media Belanda: Ini Pelatih yang Punya Rekam Jejak Langka!

“Nggak Ada Pilihan Lain, Harus Bujuk Pemain”

Viral di Vietnam! John Herdman Tolak Honduras, Pilih Latih Timnas Indonesia

Menurut Jeje, Shin Tae-yong benar-benar berada dalam posisi sulit kala itu. Ia tak punya banyak opsi selain membujuk sang pemain agar mau bertahan bersama tim.

“Coach Shin nggak punya pilihan lain selain bujuk-bujuk pemain ini yang mau pulang,” ujar Jeje dalam wawancara tersebut.

Jeje menggambarkan betapa rumitnya situasi saat itu. Di satu sisi, Shin Tae-yong harus menjaga keharmonisan tim, menghadapi tekanan publik dan federasi (PSSI), serta meredam konflik internal. Di sisi lain, ia berhadapan dengan pemain yang kehilangan motivasi dan ingin meninggalkan tim saat momen penting.

“Mungkin coach Shin juga mikirin posisi Pak Erick (Thohir), media, dan kondisi tim. Jadi akhirnya dia bujuk-bujuk sampai pemain itu akhirnya mau main lagi,” jelas Jeje.


Upaya Terakhir Sebelum Laga Kontra China

Shin Tae-yong bahkan sempat berbicara langsung dengan pemain yang ingin pulang tersebut. Ia menanyakan secara terbuka apakah pemain itu masih mau bermain untuk Timnas Indonesia atau tidak.

“Dia bilang, ‘kamu mau apa nggak?’ Tapi ternyata tetap nggak mau. Setelah itu saya nggak tahu siapa yang akhirnya bujuk dia. Tapi ada beberapa pihak yang bilang, ‘jangan pulang, nanti masalah besar di media,’” kata Jeje menirukan perbincangan tersebut.

Setelah melalui sejumlah upaya dan tekanan dari berbagai pihak, sang pemain akhirnya memutuskan bertahan dan bahkan dimainkan sebagai starter dalam laga melawan China.

“Dan ya, lawan China dia main. Harusnya bisa tampil baik karena levelnya juga bagus,” ujar Jeje.

Sayangnya, meski upaya itu berhasil menjaga stabilitas tim, hasil akhir tetap pahit. Timnas Indonesia kalah 2-1 dari China, dan kekalahan itu kembali menambah tekanan terhadap Shin Tae-yong.


Disalahkan karena Starting Lineup?

Setelah kekalahan tersebut, muncul kabar bahwa PSSI marah terhadap Shin Tae-yong karena tidak setuju dengan susunan pemain yang diturunkannya. Namun Jeje menegaskan bahwa kabar itu tidak benar.

“Marah sih nggak tahu, tapi ada yang komplain soal starting-nya. Tapi menurut saya, itu wewenang head coach. Kenapa orang lain yang harus ngatur?” tegasnya.

Ia menambahkan, memang ada pihak-pihak tertentu yang memberi saran soal siapa yang sebaiknya dimainkan, namun Shin Tae-yong tetap memegang prinsip profesionalnya.

“Ada yang komplain, iya, tapi nggak sampai nyuruh pertandingan berikutnya harus mainin siapa,” ujarnya lagi.


Publik Makin Simpati pada Shin Tae-yong

Pernyataan Jeje ini langsung memancing simpati publik. Banyak yang menilai bahwa Shin Tae-yong telah memberikan segalanya untuk Timnas Indonesia — mulai dari strategi, disiplin, hingga pengorbanan pribadi. Bahkan ketika harus “merendahkan diri” membujuk pemain agar tetap bertahan demi semangat tim.

Bagi banyak penggemar, hal ini menjadi bukti nyata bahwa pelatih berusia 55 tahun itu bukan hanya sekadar pelatih taktis, tetapi juga sosok yang tulus membangun mental dan karakter pemain Indonesia.

Bahkan ketika hasil di lapangan tidak selalu berpihak padanya, Shin Tae-yong tetap berusaha menjaga profesionalisme dan solidaritas skuad Garuda.

Cerita ini memperlihatkan bahwa pekerjaan seorang pelatih tidak hanya sebatas taktik dan strategi. Dalam tekanan besar dan ekspektasi tinggi, pelatih juga harus menjadi pemimpin, motivator, bahkan mediator di tengah situasi yang sulit.

Apa yang dialami Shin Tae-yong menjadi potret nyata perjuangan pelatih asing yang menghadapi tantangan kompleks di sepak bola Indonesia — mulai dari budaya, tekanan media, hingga politik internal federasi.

Meski kini posisinya telah digantikan, publik tetap mengingat bagaimana Shin Tae-yong dengan sabar membentuk identitas baru Timnas Indonesia: disiplin, berani, dan pantang menyerah.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget