Bukan Takut, Pandji Pragiwaksono Jelaskan Alasan Anies Tak Dibahas di Mens Rea

Bukan Takut, Pandji Pragiwaksono Jelaskan Alasan Anies Tak Dibahas di Mens Rea
Sumber :
  • Pandji Pragiwaksono

Pejabat Aktif yang Dibahas dalam Mens Rea

Honor Watch GS 5: Smartwatch Rp1,5 Juta, Bisa Deteksi Henti Jantung

Dalam penjelasannya, Pandji menyebut beberapa nama yang masuk ke dalam materi karena status mereka sebagai pejabat publik aktif saat itu.

Nama-nama tersebut meliputi
Prabowo Subianto
Gibran Rakabuming Raka
Bahlil Lahadalia
Fadli Zon

VCT Pacific 2026 Resmi Dimulai: 3 Tim Baru & Format Revolusioner

Pandji menyebut bahwa selama seseorang masih menjabat, publik memiliki hak untuk mengkritik. Dalam kerangka itu, komedi menjadi salah satu medium yang ia pilih untuk menyampaikan kritik tersebut.

Menurutnya, tidak ada alasan untuk menghindari kritik terhadap pejabat aktif, karena mereka berada dalam posisi yang menggunakan uang pajak dan mengambil keputusan atas nama rakyat.

Transformasi Apple Watch: Casing miniphone Ubah Jadi Perangkat Genggam

Pengecualian untuk Presiden

Meski fokus pada pejabat aktif, Pandji mengakui adanya pengecualian dalam pendekatan ini. Salah satunya adalah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Ia menilai jabatan presiden memiliki posisi khusus yang membuatnya selalu relevan untuk dibahas, bahkan setelah masa jabatan berakhir.

Pandji menjelaskan bahwa presiden bukan sekadar pejabat biasa. Setiap kebijakan dan pernyataannya akan selalu menjadi bagian dari sejarah. Karena itu, membahas presiden, baik yang masih menjabat maupun yang sudah selesai masa tugasnya, tetap memiliki konteks yang kuat.

Ia mencontohkan bahwa tokoh seperti Soekarno dan Soeharto hingga kini masih terus dibahas. Menurutnya, itu bukan karena nostalgia, melainkan karena posisi presiden selalu membawa dampak besar dan berjangka panjang bagi negara.

Kasus Spesifik di Luar Jabatan

Selain presiden, Pandji juga memasukkan beberapa figur lain dengan alasan khusus. Ia menyebut Irjen Teddy Minahasa sebagai contoh kasus yang dianggap penting untuk diketahui publik karena skala kejahatannya.

Sementara itu, nama Dharma Pongrekun masuk ke dalam materi karena alasan yang ia sebut sebagai subjektif. Pandji menyatakan bahwa menurut keyakinannya, figur tersebut terlalu lucu untuk tidak dibahas dalam konteks stand-up comedy.

Ia menegaskan bahwa pengecualian semacam ini tidak mengubah kerangka utama kritik yang ia gunakan. Fokus tetap berada pada kekuasaan, dampak kebijakan, dan relevansi bagi publik.

Menepis Tuduhan Kedekatan Politik

Pandji juga menanggapi tudingan bahwa dirinya merupakan pendukung fanatik Anies Baswedan. Ia mengingatkan publik bahwa selama Anies menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, dirinya justru termasuk salah satu pengkritik yang paling vokal.

Halaman Selanjutnya
img_title