Waspada! 83% Konsumen RI Rentan Penipuan Digital E-commerce
- Istimewa
Sayangnya, penggunaan perangkat lunak keamanan khusus, yang merupakan pertahanan terbaik, masih tergolong rendah. Kelompok usia 55 tahun ke atas menunjukkan tingkat adopsi terendah, dengan hanya 32% responden senior yang mengandalkan solusi keamanan saat berbelanja. Hal ini menjadikan kelompok tersebut target empuk bagi para penjahat siber.
Tantangan Baru: Phishing yang Didukung AI
Para penipu kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat serangan phishing yang jauh lebih meyakinkan. Pesan atau laman palsu yang dihasilkan AI seringkali bebas dari kesalahan tata bahasa atau desain yang biasanya mudah dikenali. Phishing generasi baru ini sangat sulit dibedakan dari komunikasi resmi.
Oleh karena itu, bergantung pada kewaspadaan pribadi tanpa dukungan teknologi akan meningkatkan peluang terjadinya kebocoran data dan kerugian finansial.
Strategi Tepat Memperkuat Keamanan Belanja Online
Untuk memastikan pengalaman belanja yang aman, konsumen perlu mengombinasikan kewaspadaan dengan alat perlindungan yang andal. Penggunaan solusi keamanan terintegrasi menjadi kunci utama menghadapi ancaman penipuan digital yang terus berkembang.
Para ahli menyarankan konsumen untuk segera mengadopsi beberapa langkah perlindungan. Mulai gunakan kartu kredit virtual atau layanan pembayaran digital yang memiliki lapisan otentikasi ganda. Selain itu, pemasangan perangkat lunak keamanan yang mampu memblokir tautan berbahaya sebelum diakses menjadi investasi krusial. Perangkat lunak tersebut melindungi pengguna dari ancaman phishing canggih. Pemahaman berkelanjutan terhadap tren ancaman siber harus menjadi bagian integral dari aktivitas keamanan belanja online setiap konsumen.