CEO OnePlus Pete Lau Resmi Buronan Taiwan, Diduga Rekrut 70 Engineer Ilegal
- Istimewa
- Pemerintah Taiwan resmi mengeluarkan surat penangkapan terhadap CEO OnePlus, Pete Lau.
- Lau diduga merekrut lebih dari 70 engineer Taiwan secara ilegal tanpa izin resmi.
- OnePlus menggunakan skema perusahaan cangkang untuk mendirikan pusat R&D tanpa pengawasan.
- Pelanggaran serius ini menyasar Undang-Undang Hubungan Lintas Selat (Cross-Strait Act).
Dunia teknologi kembali terguncang. Pemerintah Taiwan secara resmi mengeluarkan surat penangkapan terhadap CEO OnePlus, Pete Lau. Keputusan ini menjadikan Pete Lau buronan Taiwan atas dugaan pelanggaran serius terhadap aturan ketenagakerjaan lintas negara. Pihak berwenang menuding petinggi perusahaan smartphone asal China tersebut melanggar hukum Taiwan.
Kejaksaan Distrik Shilin Taiwan mengungkapkan praktik gelap OnePlus. Mereka menduga OnePlus merekrut lebih dari 70 tenaga kerja engineer Taiwan tanpa mengantongi persetujuan resmi dari pemerintah setempat. Investigasi mendalam yang dilakukan jaksa menunjukkan bahwa kasus ini melibatkan skema canggih untuk menghindari pengawasan hukum.
Taktik Perusahaan Cangkang dan Perekrutan Diam-diam
Jaksa penyelidik meyakini OnePlus telah menjalankan operasi perekrutan ilegal ini selama beberapa tahun. Perusahaan teknologi itu diduga sengaja menggunakan taktik licik untuk menghindari regulasi ketat Taiwan. Pertama-tama, OnePlus mendirikan sebuah entitas yang berfungsi sebagai "perusahaan cangkang" di Hong Kong.
Selanjutnya, entitas Hong Kong ini membuka cabang di Taiwan pada tahun 2015. Cabang tersebut beroperasi sebagai pusat penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) untuk produk ponsel OnePlus. Namun, OnePlus tidak pernah memperoleh persetujuan yang diwajibkan oleh pemerintah Taiwan. Berdasarkan hukum yang berlaku, perusahaan asal China wajib mendapatkan izin khusus sebelum membuka kantor atau mempekerjakan sumber daya manusia lokal.
Para jaksa menilai, penggunaan skema perusahaan cangkang ini menunjukkan upaya sistematis. Tujuannya adalah menyamarkan identitas asli perusahaan demi menghindari pembatasan dan pengawasan ketat regulator Taiwan.
Peran Dua Warga Taiwan dalam Skema Perekrutan
Kasus ini tidak hanya menyeret CEO OnePlus, Pete Lau. Otoritas Taiwan juga mendakwa dua warga negara Taiwan, yakni seorang pria bermarga Lin dan seorang wanita bermarga Cheng. Kedua individu tersebut diduga kuat bertindak sebagai perantara kunci dalam proses perekrutan.