Peringkat Utang Luar Negeri Global Firepower 2025: AS vs Indonesia
- Illustrasi Uang
Gadget – Dalam laporan tinjauan pertahanan tahunan 2025, Global Firepower (GFP) menyoroti sisi lain dari kekuatan militer dunia: kerentanan finansial. Utang luar negeri, yang didefinisikan sebagai total kewajiban sektor publik dan swasta kepada pihak internasional, kini menjadi indikator krusial dalam menilai kesehatan fiskal suatu negara. Bagi GFP, utang yang tidak terkendali adalah penalti, mengurangi skor kekuatan nasional karena membatasi kemampuan negara membiayai operasi pertahanan jangka panjang. Ironisnya, daftar ini justru didominasi oleh negara-negara dengan kekuatan militer paling canggih di dunia.
1 Amerika Serikat: Hegemoni Senilai $22,3 Triliun
Tidak mengejutkan, Amerika Serikat menempati posisi puncak sebagai debitur terbesar di planet ini. Dengan total utang luar negeri mencapai $22,3 triliun (sekitar Rp 376,8 kuadriliun dengan asumsi kurs Rp 16.900), AS menanggung beban finansial yang masif untuk menopang statusnya sebagai adidaya ekonomi dan militer. Angka ini mencerminkan ketergantungan Washington pada instrumen utang (seperti Treasury Bonds) yang dipegang oleh investor asing untuk membiayai defisit anggaran mereka yang terus melebar.
2 Britania Raya: Beban $9,5 Triliun
Di posisi kedua, Britania Raya mencatatkan utang luar negeri sebesar $9,5 triliun (sekitar Rp 160,5 kuadriliun). Sebagai salah satu pusat keuangan dunia melalui London, besarnya angka ini sebagian besar didorong oleh aktivitas sektor perbankan dan jasa keuangan internasional yang berbasis di sana, selain kewajiban pemerintah. Ini menempatkan Inggris jauh di atas negara-negara Eropa lainnya dalam hal eksposur kewajiban lintas batas.
3 Prancis: Struktur Utang $6,9 Triliun
Prancis menyusul di peringkat ketiga dengan total kewajiban $6,9 triliun (sekitar Rp 116,6 kuadriliun). Seperti tetangganya di selat Inggris, Prancis menggunakan pembiayaan eksternal untuk mempertahankan standar layanan publik yang tinggi dan modernisasi militer yang agresif di bawah payung NATO.
4 Jerman: Mesin Eropa dengan Utang $6,2 Triliun
Sebagai ekonomi terbesar di Eropa, Jerman menempati posisi keempat dengan utang $6,2 triliun (sekitar Rp 104,7 kuadriliun). Meskipun dikenal dengan disiplin fiskal yang ketat, besarnya skala industri dan perdagangan ekspor Jerman menciptakan interkoneksi finansial yang masif dengan pasar global, yang tercatat sebagai kewajiban luar negeri dalam metrik GFP.
5 Luksemburg: Anomali Negara Kecil
Data paling mengejutkan datang dari Luksemburg. Negara mungil ini menduduki peringkat kelima dengan utang $4,77 triliun (sekitar Rp 80,6 kuadriliun). Angka ini sama sekali tidak mencerminkan populasi atau kekuatan militernya, melainkan statusnya sebagai hub perbankan privat dan investasi global. Arus modal asing yang masuk dan keluar melalui Luksemburg secara teknis dihitung sebagai utang luar negeri, menciptakan distorsi statistik yang unik.
6 - 10 Zona Menengah: Belanda hingga Italia
Peringkat enam hingga sepuluh diisi oleh campuran kekuatan ekonomi Eropa dan Asia Pasifik:
Belanda (#6): Mencatat $4,7 triliun, didorong oleh posisinya sebagai gerbang perdagangan Eropa.
Jepang (#7): Satu-satunya wakil Asia di Top 7 dengan $4,67 triliun, mencerminkan utang publik yang tinggi namun sebagian besar dimiliki oleh domestik.
Australia (#8): Memiliki kewajiban $3,4 triliun.
Irlandia (#9): Pusat teknologi Eropa ini mencatat $3,3 triliun.
Italia (#10): Melengkapi sepuluh besar dengan $2,7 triliun.
Posisi Indonesia: Peringkat 25 ($440 Miliar)
Indonesia berada di papan tengah, tepatnya peringkat ke-25 dalam daftar GFP. Total utang luar negeri tercatat sebesar $440 miliar (sekitar Rp 7,4 kuadriliun). Posisi ini menempatkan Indonesia di bawah Korea Selatan yang memiliki utang $503 miliar.
Namun, perlu dicatat bahwa data riil dari Bank Indonesia (BI) per November 2025 menunjukkan angka yang sedikit lebih rendah, yakni $423,8 miliar. Struktur utang Indonesia dinilai lebih sehat dibandingkan negara-negara G7 di atas, dengan dominasi tenor jangka panjang (86,1%) dan rasio terhadap PDB yang menurun ke level 29,3%. Ini menandakan bahwa meskipun nominalnya tampak besar dalam Rupiah, kapasitas bayar Indonesia dinilai kuat oleh lembaga pemeringkat internasional.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |