Waspada! BRIN Ungkap Wilayah Rawan Sinkhole Indonesia

Waspada! BRIN Ungkap Wilayah Rawan Sinkhole Indonesia
Sumber :
  • Istimewa

Saat Gunung Meletus dan Mereka Sedang di Ranu Kumbolo: Kisah Nyata 187 Pendaki Semeru
  • Wilayah dengan lapisan batugamping tebal (kawasan karst) seperti Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros berisiko tinggi mengalami fenomena sinkhole.
  • Pembentukan rongga di bawah tanah dipicu oleh air hujan yang bersifat asam dan melarutkan batuan, proses ini berlangsung sangat lama.
  • Deteksi dini sangat sulit dilakukan secara visual; survei geofisika dan metode cement grouting menjadi kunci mitigasi.

Semeru Kembali Erupsi, Awan Panas 5 Km, Warga Lereng Diminta Jauhi Sungai!

Fenomena sinkhole Indonesia kini menjadi perhatian serius Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BRIN menegaskan bahwa peristiwa geologi yang menyebabkan runtuhan permukaan tanah ini relatif sering terjadi di Tanah Air. Wilayah yang paling berpotensi terdampak adalah kawasan dengan bentang alam karst.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, mengidentifikasi daerah seperti Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros sebagai area rawan. Secara geologi, daerah-daerah tersebut memiliki lapisan batugamping yang tebal di bawah permukaan tanah. Masyarakat di wilayah ini wajib mewaspadai risiko runtuhan tanah mendadak.

Erupsi Malam Hari, Gunung Semeru Keluarkan 127 Letusan dalam 24 Jam

Mekanisme Pembentukan dan Pemicu Sinkhole Indonesia

Sinkhole adalah fenomena alam yang terjadi ketika lapisan batugamping di bawah permukaan tanah runtuh. Proses pembentukannya memerlukan waktu yang sangat panjang, melibatkan air hujan dan reaksi kimia.

Adrin menjelaskan, air hujan menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara dan permukaan tanah. Proses ini membuat air hujan menjadi sedikit asam. Air asam ini kemudian meresap ke dalam tanah.

Air tersebut secara perlahan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping. Pelarutan ini membentuk rekahan dan rongga-rongga besar di bawah permukaan tanah.

Seiring berjalannya waktu, aliran air tanah memperbesar rongga tersebut. Hal ini secara signifikan melemahkan lapisan tanah penyangga di atasnya. Ketika hujan lebat turun, lapisan penutup rongga tidak lagi mampu menahan beban dan runtuh tiba-tiba, menciptakan lubang yang dikenal sebagai sinkhole.

Tantangan Deteksi dan Survei Geofisika

Salah satu tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya. Pembentukan rongga terjadi secara bertahap dan tersembunyi di bawah tanah. Oleh sebab itu, masyarakat tidak mudah mengenali potensi bahaya secara visual.

Identifikasi Potensi Rongga Bawah Tanah

Meskipun sulit dideteksi mata telanjang, keberadaan rongga batugamping dapat diidentifikasi. Adrin Tohari menyarankan penggunaan survei geofisika. Survei ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan tanah.

Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik sangat efektif. Para ahli dapat memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga. Dengan gambaran detail ini, potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini.

Tanda Peringatan di Kawasan Permukiman

Kawasan permukiman yang berada di atas lapisan batugamping memiliki risiko tinggi. Tanda penting yang harus diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba. Apabila aliran air mendadak menghilang, kemungkinan air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini harus segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan.

Kelayakan Air dalam Sinkhole

Mengenai kualitas air yang ditemukan di dalam sinkhole, Adrin memperingatkan bahwa air tersebut tidak serta merta layak dikonsumsi. Air itu umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan.

Air harus melalui analisis kimia yang ketat terlebih dahulu. Analisis ini meliputi pengujian kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat. Hasil analisis harus sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan.

Pendekatan Sains untuk Antisipasi Bencana Geologi

BRIN menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam memahami dan mengantisipasi fenomena sinkhole. Metode rekayasa geoteknik tersedia untuk mencegah pembentukan runtuhan di daerah batugamping.

Metode unggulan yang dapat dilakukan adalah cement grouting. Teknik ini melibatkan injeksi semen, mortar, atau bahan kimia tertentu untuk mengisi rongga pada lapisan batugamping bawah permukaan.

Proses cement grouting diawali dengan pemboran dari permukaan hingga kedalaman yang menjadi lokasi rongga. Kemudian, material injeksi dimasukkan melalui pipa yang terpasang di lubang bor.

Injeksi material grouting menggunakan pompa bertekanan. Tekanan dan volume injeksi dimonitor secara cermat. Tujuannya agar material mengisi rongga tanpa merusak struktur batuan di sekitarnya. Efektivitas grouting selanjutnya diverifikasi melalui uji permeabilitas atau pengujian geofisika lain. Ini memastikan rongga sudah terisi penuh dan stabilitas lapisan batuan meningkat, sehingga potensi sinkhole Indonesia dapat diminimalisir.