8 Investor Raksasa Global Incar Pasar Pusat Data Indonesia
- Istimewa
- IDPRO memproyeksikan 5 hingga 8 pemain pusat data (data center) global akan masuk Indonesia dalam 1-3 tahun ke depan.
- Masuknya investor didorong oleh pertumbuhan ekonomi digital nasional, yang diprediksi mencapai USD 350 miliar pada 2030.
- Pemerintah menargetkan kapasitas pusat data nasional meningkat hampir lima kali lipat, mencapai 6,87 watt/kapita pada 2029.
Organisasi Penyedia Pusat Data Indonesia (IDPRO) mengumumkan bahwa minat pemain teknologi global terhadap pasar nasional tengah berada pada titik tertinggi. IDPRO memantau kuatnya arus masuk modal asing ke sektor infrastruktur digital. Berdasarkan data terkini, setidaknya 5 hingga 8 perusahaan data center raksasa global dipastikan akan memasuki Indonesia dalam kurun waktu 1 hingga 3 tahun mendatang.
Investor potensial ini, menurut Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, berasal dari beragam kawasan, mulai dari Asia Timur, Amerika Utara, hingga Eropa. Peningkatan drastis ini mencerminkan optimisme tinggi terhadap fundamental ekonomi digital domestik.
Mengapa Indonesia Menjadi Magnet Investasi Data Center?
Pertumbuhan ekonomi digital menjadi mesin utama yang menarik investasi data center global. Para investor melihat potensi pasar yang tak tertandingi di Asia Tenggara.
Hendra Suryakusuma menjelaskan bahwa pada tahun 2030, nilai transaksi bruto (GMV) Indonesia diproyeksikan mencapai USD 350 miliar, setara sekitar Rp5.943 triliun. Angka ini mendorong peningkatan kebutuhan mendesak akan layanan cloud lokal yang aman dan efisien.
Selain itu, kebijakan pemerintah yang semakin pro-investasi, terutama di bawah arahan Kementerian Keuangan, semakin memperkuat daya tarik Indonesia. Faktor-faktor inilah yang menjadi landasan kuat bagi ekspansi pemain global.
Kapasitas Pusat Data Terkini dan Pertumbuhan Eksponensial
Ekosistem Pusat Data Indonesia menunjukkan pertumbuhan fisik yang signifikan. Hingga April 2025, tercatat 180 pusat data telah beroperasi dalam berbagai skala.
Secara kapasitas, total daya nasional meningkat tajam, dari 190 megawatt (MW) pada Oktober 2024 menjadi 290 MW pada Juni 2025. Perkembangan ini juga ditandai dengan peningkatan kualitas; delapan pusat data saat ini sudah dikategorikan sebagai Tier 4, menunjukkan kemampuan operasional tertinggi di dunia. Bahkan, tiga pusat data kini fokus pada teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI).
Strategi IDPRO Memfasilitasi Ekspansi Global
IDPRO memainkan peran penting sebagai penghubung strategis. Mereka menjembatani kepentingan pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, dan investor. Organisasi ini menjalankan empat pilar utama untuk memastikan iklim investasi pusat data berkelanjutan.
Peran Advokasi dan Standardisasi Internasional
Pertama, IDPRO aktif melakukan advokasi regulasi. Mereka bekerja sama erat dengan instansi pemerintah untuk mendorong kebijakan yang mendukung investasi. Ini termasuk kemudahan perizinan, ketersediaan lahan industri, serta insentif fiskal yang menarik bagi perusahaan asing.
Kedua, promosi kolaboratif. IDPRO secara rutin memfasilitasi forum investasi bersama BKPM dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Tujuannya jelas, yaitu memperkenalkan potensi pasar Indonesia secara menyeluruh kepada calon investor.
Ketiga, IDPRO fokus pada penguatan SDM lokal. Mereka juga mengembangkan ekosistem pendukung, termasuk penyediaan energi hijau dan konektivitas jaringan yang stabil.
Keempat, IDPRO mendorong standardisasi. Hendra Suryakusuma menekankan pentingnya adopsi standar internasional seperti ISO dan Uptime Tier Certification. Langkah ini memastikan daya saing pemain lokal di tengah derasnya arus pasar global.
Ambisi Kapasitas Pusat Data Indonesia dalam Rencana Strategis Komdigi
Pemerintah melalui Komdigi telah menetapkan target agresif untuk pengembangan infrastruktur digital. Rencana Strategis (Renstra) Komdigi 2025–2029 menargetkan peningkatan kapasitas per kapita yang masif.
Komdigi menargetkan kapasitas pusat data nasional mencapai sekitar 2,81 watt per kapita pada tahun 2026. Angka ini melonjak 91% dari target 2025, yakni 1,47 watt per kapita.
Selanjutnya, kapasitas pusat data per kapita direncanakan meningkat menjadi 4,18 watt pada 2027. Pada 2029, Komdigi mematok kapasitas tertinggi sebesar 6,87 watt per kapita. Ini menunjukkan peningkatan hampir lima kali lipat dalam kurun waktu lima tahun, memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan digital regional.