Biaya Admin E-commerce Melonjak, Margin UMKM Terancam 20%

Biaya Admin E-commerce Melonjak, Margin UMKM Terancam 20%
Sumber :
  • Istimewa

Biaya Admin E-commerce Mencekik: Kenapa Seller Merugi?
  • Kenaikan biaya administrasi e-commerce di awal 2026 membuat margin keuntungan pelaku usaha, khususnya fesyen, tergerus hingga 20 persen.
  • Pedagang menilai kebijakan platform saat ini cenderung merugikan penjual, diperparah dengan komponen biaya baru yang muncul.
  • Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengambil langkah cepat merevisi Permendag Nomor 31 Tahun 2023.
  • Revisi regulasi ini bertujuan mengatur biaya platform agar harga produk UMKM tetap kompetitif di pasar digital.

idEA Desak Kajian Mendalam Revisi Permendag 31/2023

Pelaku usaha di sektor e-commerce menyoroti lonjakan signifikan pada biaya administrasi e-commerce dan layanan platform sejak awal tahun ini. Kenaikan beban biaya operasional tersebut dikhawatirkan menggerus margin keuntungan secara drastis. Tekanan ini terasa makin berat bagi UMKM kategori fesyen yang sedang mempersiapkan stok besar untuk momen penjualan Ramadhan.

Situasi dilematis ini memaksa para penjual melakukan kalkulasi ulang harga jual. Mereka harus memilih antara mempertahankan daya saing harga atau menjaga margin keuntungan agar bisnis tetap berkelanjutan.

Revolusi Otomotif: Platform SuperFlash Gen 4 28nm Meluncur

Tekanan Berat: Biaya Administrasi E-commerce Mencekik Margin

Seorang pelaku usaha kategori fesyen, Chika, mengungkapkan bahwa akumulasi biaya yang dibebankan platform kini mencapai kisaran angka 20%. Potongan setinggi ini membuat struktur biaya operasional tokonya menjadi tidak efisien.

Kalkulasi Nyata: Margin Fesyen Tergerus 20 Persen

Chika menjelaskan perhitungan tersebut dengan detail. Dia membanderol busana lebaran di kisaran Rp400.000 hingga Rp450.000 per unit. Dari harga jual tersebut, sekitar Rp90.000 langsung hilang untuk membayar fee platform e-commerce seperti Shopee.

Persentase potongan ini mencapai seperlima dari harga jual. Chika menilai kondisi ini menempatkan pedagang dalam posisi yang sangat sulit, terutama saat bersaing dengan produk impor murah.

Senada dengan Chika, pedagang lain bernama Tia juga dikejutkan oleh persentase kenaikan biaya administrasi tahun ini. Data operasional tokonya mencatat biaya admin meningkat dari 8,5% menjadi 9,5%.

Komponen Biaya Baru Makin Memberatkan

Kenaikan persentase tersebut belum termasuk komponen biaya baru yang diterapkan platform. Tia mencatat munculnya "biaya proses layanan" sebesar Rp1.250 per transaksi. Akumulasi beban tersebut mengurangi insentif pedagang untuk terus berinovasi di platform digital.

Tia menyayangkan kebijakan platform yang dianggap tidak sebanding dengan keberpihakan terhadap mitra penjual. Padahal, pertumbuhan volume transaksi e-commerce sangat bergantung pada peran aktif para penjual dalam menyediakan produk berkualitas.

Halaman Selanjutnya
img_title