Bonus Hari Raya Ojol 2026 Stagnan, Celios: Siap-siap Protes
- Istimewa
- Skema Bonus Hari Raya (BHR) Ojol 2026 diprediksi Celios stagnan dan tidak berbeda dari tahun sebelumnya.
- Keterbatasan finansial platform menjadi alasan utama rendahnya besaran BHR yang diterima sebagian besar driver.
- Skema ini berisiko memicu gelombang protes dan ketidakpuasan, khususnya bagi driver yang hanya menerima nominal minimum.
Lembaga kajian Center of Economic and Law Studies (Celios) mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi gejolak ketidakpuasan di kalangan pengemudi ojek online (ojol) menjelang Lebaran 2026. Analisis Celios memprediksi bahwa skema pemberian Bonus Hari Raya Ojol 2026 (BHR) oleh platform aplikator tidak akan mengalami perubahan mendasar. Hal ini berpotensi mengulang gelombang protes yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) sendiri saat ini masih menyusun regulasi teknis mengenai BHR ini.
Stagnasi BHR Ojol: Mengapa Platform Tidak Mampu Beri Lebih?
Stagnansi besaran BHR diyakini bersumber dari keterbatasan kemampuan finansial platform transportasi online. Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, secara eksplisit menjelaskan bahwa platform kesulitan menyamakan nominal BHR untuk seluruh pengemudi. Oleh karena itu, skema yang diterapkan akan bersifat diskriminatif.
"Kami melihat besaran BHR dan kriteria penerima akan tetap sama seperti tahun lalu. Ada yang menerima dalam jumlah besar, tetapi sebagian besar menerima dengan jumlah minimum," jelas Huda, Jumat (30/1/2026).
Celios menilai bahwa jika platform diwajibkan memberikan BHR dengan nominal tinggi dan seragam, kemampuan finansial perusahaan aplikator akan terbebani. Ini menjelaskan mengapa kebijakan BHR cenderung stagnan.
Keterbatasan Finansial vs Tuntutan Kesejahteraan Driver
Nailul Huda menekankan, skema BHR yang diterapkan platform selama ini lebih bersifat populis. Tujuannya adalah meredam gejolak sesaat di lapangan.
Skema tersebut sayangnya tidak berfungsi sebagai instrumen nyata peningkatan kesejahteraan driver secara substansial. Driver ojol memerlukan kepastian insentif yang layak, bukan sekadar penenang menjelang hari raya.
Perusahaan aplikator besar seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), Grab Indonesia, dan Maxim telah memastikan keberlanjutan program BHR untuk pengemudi ojol tahun ini. Namun, kepastian program ini belum tentu sejalan dengan kepuasan penerima.
Risiko Gejolak Protes Driver Ojol Terulang
Celios memproyeksikan pola lama pemberian Bonus Hari Raya Ojol ini justru berisiko tinggi memicu protes. Driver ojol yang hanya menerima BHR di bawah ekspektasi akan merasa dirugikan.
"Saya memprediksi ketidakpuasan terhadap BHR ini pasti terjadi," ujar Huda. Jika skema nominal terendah—misalnya Rp50.000—terulang, gelombang pengaduan dari pengemudi pasti muncul kembali.
Ketidakpuasan ini sering kali dipicu oleh perbedaan nominal yang terlalu jomplang antar pengemudi. Driver yang memiliki performa tinggi mungkin menerima BHR maksimal. Sebaliknya, mayoritas driver yang kinerjanya reguler hanya menerima BHR nominal terendah.
Proyeksi Skema Bonus Hari Raya Ojol ke Depan
Perdebatan mengenai skema BHR untuk driver ojol tahun 2026 memang masih berlanjut. Meskipun Kemnaker tengah menyusun kerangka aturan, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa platform besar sulit mengubah besaran insentif secara drastis.
Kritik utama Celios tertuju pada sifat kebijakan yang hanya menanggapi isu jangka pendek, bukan memberikan solusi kesejahteraan jangka panjang bagi mitra pengemudi. Untuk meredam protes, pemerintah dan platform aplikator harus menyusun kriteria yang lebih transparan dan memberikan nominal Bonus Hari Raya Ojol yang dirasa adil oleh mayoritas pengemudi, bukan hanya segelintir yang berkinerja terbaik.