NASA Tunda Artemis II: Kebocoran Bahan Bakar Geser Misi ke Bulan
- Istimewa
- Jadwal peluncuran misi berawak Artemis II, yang semula 8 Februari, resmi ditunda hingga minimal awal Maret 2026.
- Penyebab utama penundaan adalah deteksi kebocoran hidrogen cair (LH2) krusial pada antarmuka roket Space Launch System (SLS).
- Empat kru astronot yang seharusnya menjalani isolasi medis kini diizinkan mengakhiri masa karantina mereka sementara waktu.
- NASA menargetkan jendela peluncuran potensial berikutnya pada 6-9 Maret dan 11 Maret 2026, menunggu perhitungan orbit Bulan.
National Aeronautics and Space Administration (NASA) secara resmi menggeser jadwal peluncuran bersejarah misi Artemis II. Semula dijadwalkan 8 Februari, kini penundaan Misi Artemis II minimal hingga awal Maret 2026. Keputusan ini muncul setelah tim teknis mendeteksi kebocoran hidrogen cair yang sangat krusial selama uji coba bahan bakar di Kennedy Space Center, Florida.
Otoritas antariksa Amerika Serikat tersebut memerlukan waktu tambahan untuk meninjau data uji coba secara menyeluruh. Misi Artemis II sangat vital karena menjadi penerbangan berawak pertama menuju wilayah Bulan dalam lebih dari 50 tahun sejarah eksplorasi luar angkasa.
Diagnosa Krusial: Kebocoran Propelan pada Roket SLS
Insinyur NASA mengumumkan revisi jadwal operasional menyusul berakhirnya uji coba pra-peluncuran. Uji coba intensif selama 49 jam ini dikenal sebagai wet dress rehearsal.
Masalah teknis utama terdeteksi saat proses pengisian bahan bakar. Tim memasukkan lebih dari 2,65 juta liter propelan kriogenik ke roket Space Launch System (SLS). Proses ini mengungkap celah fatal.
Kegagalan Mitigasi dan Batas Aman
Tim teknis menemukan kebocoran hidrogen cair (LH2) pada bagian antarmuka. Antarmuka tersebut berfungsi menghubungkan menara peluncuran seluler dengan tahap inti roket SLS.
Teknisi segera mengupayakan mitigasi dengan menghentikan aliran bahan bakar. Mereka mencoba menghangatkan segel agar dapat terpasang kembali dengan presisi. Sayangnya, upaya ini gagal. Tingkat kebocoran tercatat kembali melonjak melampaui ambang batas aman, tepat saat simulasi hitung mundur menyisakan lima menit.
Keselamatan Kru Jadi Prioritas Utama NASA
Administrator NASA, Jared Isaacman, menekankan bahwa keselamatan awak dan integritas misi selalu menjadi prioritas tertinggi. Manajemen menilai tantangan teknis dalam pengujian sistem roket raksasa ini sebagai risiko yang telah diperhitungkan sejak awal.
Isaacman menjelaskan tantangan ini memang terantisipasi. "Tantangan dalam pengujian seperti ini sudah diantisipasi mengingat jeda waktu yang cukup lama sejak peluncuran SLS terakhir," tegas Isaacman dalam pernyataan resminya.
Kendala Operasional Lain dan Dampaknya
Selain masalah krusial pada kebocoran propelan, laporan pengujian juga mengungkap sejumlah kendala operasional minor. Salah satunya adalah gangguan komunikasi audio. Tim darat melaporkan terputus-putusnya komunikasi yang telah terpantau selama beberapa minggu terakhir.
Penundaan ini berdampak langsung pada empat kru astronot: Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan astronot Kanada Jeremy Hansen. Keempat astronot tersebut diizinkan mengakhiri masa isolasi medis di Houston yang telah mereka jalani sejak 21 Januari lalu.
Menanti Jendela Peluncuran Baru Artemis II
NASA kini menargetkan jendela peluncuran potensial berikutnya. Periode target tersebut jatuh pada tanggal 6 hingga 9 Maret serta 11 Maret 2026.
Penentuan tanggal baru ini sangat bergantung pada perhitungan posisi orbital Bulan. Perhitungan harus memastikan kapsul Orion dapat kembali dan mendarat di Bumi dengan aman. Apabila kendala teknis belum teratasi sepenuhnya pada periode Maret, otoritas terkait telah menyiapkan opsi cadangan. Peluang penerbangan selanjutnya diproyeksikan baru akan tersedia pada awal dan akhir April 2026. Penundaan Misi Artemis II memberi waktu kritis bagi insinyur untuk memperbaiki roket bersejarah ini.