Eks Fisikawan Harvard Ungkap Lokasi Surga Secara Ilmiah

Eks Fisikawan Harvard Ungkap Lokasi Surga Secara Ilmiah
Sumber :
  • Istimewa

Alien Bukan Nyata! NASA Ungkap Foto Asli Komet 3I/ATLAS yang Bikin Heboh
  • Dr. Michael Guillen mengklaim lokasi surga berada 273 miliar triliun mil dari Bumi.
  • Angka tersebut bertepatan dengan Horison Kosmik, batas terjauh alam semesta teramati.
  • Secara teoritis, waktu berhenti pada titik tersebut, sesuai dengan deskripsi kitab suci.

Inilah Waktu Terbaik Saksikan Hujan Meteor Epsilon Geminid di Indonesia!

Mantan profesor fisika Universitas Harvard, Dr. Michael Guillen, memicu perdebatan hangat terkait lokasi surga berdasarkan hukum kosmologi modern. Ia menyebutkan bahwa prinsip astronomi saat ini secara spesifik merujuk pada titik sejauh 273 miliar triliun mil dari Bumi. Klaim mengejutkan ini ia sampaikan melalui laporan Daily Star pada Rabu (11/2/2026) dengan menghubungkan sains dan teks religius kuno.

Rahasia Horison Kosmik dan Kecepatan Cahaya

Mimpi Bertemu Kakek-Kakek Ternyata Pertanda Baik, Wasroni Temukan Batu Meteor Bernilai Fantastis!

Guillen mendasarkan argumennya pada hukum ekspansi alam semesta yang ditemukan oleh astronom Edwin Hubble. Galaksi-galaksi terus bergerak menjauhi Bumi, dan objek yang lebih jauh akan bergerak dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Pada jarak 273 miliar triliun mil, sebuah galaksi secara matematis akan mencapai kecepatan 186.000 mil per detik. Angka ini merupakan kecepatan cahaya yang menjadi batas tertinggi dalam fisika. Para ilmuwan mengenal titik kritis ini sebagai Horison Kosmik, yakni batas terluar alam semesta yang dapat diamati manusia.

Selain itu, cahaya dari galaksi di luar titik tersebut tidak akan pernah mencapai Bumi. Hal ini menjadikan wilayah tersebut sebagai misteri besar yang berada di luar jangkauan pengamatan visual manusia saat ini.

Kondisi Tanpa Waktu Menurut Teori Einstein

Guillen juga menyoroti keunikan sifat realitas pada ambang batas lokasi surga tersebut. Ia merujuk pada teori relativitas umum dan khusus milik Albert Einstein yang menyatakan bahwa waktu berhenti pada Horison Kosmik.

"Pada jarak khusus itu, di angkasa luar yang sangat dalam, tidak ada masa lalu, masa kini, atau masa depan," ungkap Guillen. Ia meyakini kondisi ketidakwaktuan atau timelessness ini sangat selaras dengan deskripsi alam baka dalam berbagai Kitab Suci.

Ia berpendapat bahwa kitab suci telah menguraikan tingkatan surga secara akurat. Tingkat terendah adalah atmosfer, tingkat menengah adalah luar angkasa, dan tingkat tertinggi adalah tempat Tuhan bersemayam di luar dimensi waktu.

Pandangan Sains Terhadap Batas Eksistensi

Meskipun menarik, mayoritas astronom profesional memiliki pandangan berbeda mengenai temuan ini. Mereka menganggap Horison Kosmik hanyalah batas praktis pengamatan manusia, bukan sebuah penghalang fisik atau dinding spiritual.

Batas ini merepresentasikan jarak terjauh cahaya yang sempat mencapai Bumi sejak peristiwa Big Bang 13,8 miliar tahun silam. Penemuan radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik pada 1965 memperkuat teori bahwa alam semesta terus berkembang dari titik awal yang panas.

Namun, bagi Guillen, apa pun yang berada di luar jangkauan indra manusia tetap memiliki sifat luar biasa. Diskusi mengenai lokasi surga ini pun terus menjadi jembatan antara pembuktian sains dan keyakinan spiritual di era modern.