Jangan Salah Pilih, Kenali Teknologi Baterai Motor Listrik Sebelum Membeli

Teknologi Baterai Lithium
Sumber :
  • lifeworks

Perkembangan motor listrik di Indonesia dan dunia terus menunjukkan tren positif. Seiring meningkatnya kesadaran akan kendaraan ramah lingkungan, motor listrik kini tak lagi dipandang sebagai produk masa depan, melainkan solusi transportasi masa kini. Namun demikian, di balik performa dan efisiensi motor listrik, terdapat satu komponen krusial yang sangat menentukan, yakni baterai. Saat ini, teknologi baterai lithium menjadi tulang punggung utama motor listrik karena dinilai efisien, ringan, dan memiliki daya simpan energi yang baik.

Cara Menghemat Baterai Motor Listrik agar Lebih Awet dan Efisien di Jalan

Meski sama-sama berbasis lithium, nyatanya terdapat beberapa jenis teknologi baterai yang digunakan pada motor listrik. Masing-masing teknologi memiliki karakteristik, kelebihan, serta keterbatasan yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk memahami perbedaan tersebut sebelum memilih motor listrik yang sesuai kebutuhan. Secara umum, ada tiga teknologi baterai lithium yang paling banyak digunakan dan dianggap paling penting dalam industri motor listrik.

Pertama, teknologi Lithium Iron Phosphate atau yang lebih dikenal dengan sebutan LFP.
Baterai LFP dikenal luas sebagai salah satu teknologi lithium paling aman. Hal ini disebabkan oleh struktur kimianya yang sangat stabil, sehingga risiko terjadinya panas berlebih atau thermal runaway relatif rendah. Dengan kata lain, baterai ini lebih minim potensi kebakaran dibanding jenis lithium lainnya. Oleh sebab itu, LFP kerap menjadi pilihan utama untuk motor listrik yang digunakan dalam aktivitas harian, seperti perjalanan kerja atau mobilitas dalam kota.

Jangan Diabaikan, Ini Ciri Kontroler Motor Listrik Bermasalah

Selain aman, baterai LFP juga memiliki umur pakai yang cukup panjang. Dalam kondisi penggunaan normal, baterai ini mampu bertahan hingga ribuan siklus pengisian dan pengosongan daya. Artinya, pengguna tidak perlu sering mengganti baterai dalam jangka waktu pendek. Namun demikian, LFP memiliki kepadatan energi yang lebih rendah. Akibatnya, motor listrik yang menggunakan baterai ini biasanya memiliki jarak tempuh yang tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan teknologi lithium lainnya. Meski begitu, kombinasi antara keamanan, ketahanan, dan biaya yang relatif lebih terjangkau membuat LFP tetap diminati, khususnya untuk motor listrik komuter.

Kedua, teknologi Lithium Nickel Manganese Cobalt atau NMC.
Baterai NMC menjadi salah satu teknologi paling populer di industri kendaraan listrik, termasuk motor listrik. Pasalnya, baterai ini menawarkan keseimbangan yang cukup ideal antara kapasitas energi, performa, dan efisiensi. Dengan kepadatan energi yang lebih tinggi dibanding LFP, motor listrik berbasis NMC mampu menempuh jarak yang lebih jauh dengan bobot baterai yang relatif ringan.

Xiaomi Perbaiki 11 Bug HyperOS Sekaligus Atasi Masalah Baterai dan Kamera di Redmi Note 14

Tak hanya itu, NMC juga mampu menghasilkan daya yang besar. Hal ini berdampak langsung pada performa motor, terutama dalam hal akselerasi yang terasa lebih responsif. Oleh karena itu, banyak motor listrik modern kelas menengah memilih teknologi baterai ini. Meski demikian, NMC membutuhkan sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS) yang lebih canggih. Sistem ini berfungsi untuk mengontrol suhu, arus, dan tegangan agar baterai tetap aman selama digunakan. Dengan pengelolaan yang tepat, baterai NMC mampu memberikan performa optimal sekaligus menjaga faktor keselamatan.

Ketiga, teknologi Lithium Nickel Cobalt Aluminum Oxide atau NCA.
Teknologi NCA dikenal memiliki kepadatan energi yang sangat tinggi. Dengan ukuran dan bobot yang relatif ringkas, baterai ini mampu menyimpan energi dalam jumlah besar. Oleh karena itu, motor listrik yang menggunakan baterai NCA umumnya menawarkan jarak tempuh lebih jauh serta performa yang lebih bertenaga. Tak heran, teknologi ini banyak diterapkan pada motor listrik kelas premium atau yang mengedepankan performa tinggi.

Namun demikian, penggunaan baterai NCA juga memiliki tantangan tersendiri. Dari sisi biaya produksi, baterai ini tergolong lebih mahal. Selain itu, pengelolaan panas menjadi aspek penting karena NCA lebih sensitif terhadap suhu tinggi. Oleh sebab itu, diperlukan sistem pendinginan dan manajemen baterai yang sangat baik. Meski kompleks, teknologi NCA tetap diminati oleh produsen yang ingin menghadirkan motor listrik dengan kemampuan maksimal.

Secara keseluruhan, ketiga teknologi baterai lithium tersebut memiliki peran penting dalam perkembangan motor listrik. LFP unggul dari sisi keamanan dan daya tahan, NMC menawarkan keseimbangan antara jarak tempuh dan performa, sementara NCA menonjol dalam kepadatan energi serta kemampuan performa tinggi. Pada akhirnya, pemilihan teknologi baterai sangat bergantung pada kebutuhan pengguna, baik dari segi mobilitas harian, performa, maupun anggaran yang tersedia.

Dengan memahami karakteristik baterai lithium pada motor listrik, konsumen diharapkan dapat membuat keputusan yang lebih tepat. Selain itu, pengetahuan ini juga membantu pengguna dalam merawat baterai agar tetap awet dan aman digunakan dalam jangka panjang.