Viral "Eva Nurasyifa Sultan Malaysia"? Ini Fakta Mengejutkan di Balik Hoaks yang Merajalela

Viral "Eva Nurasyifa Sultan Malaysia"? Ini Fakta Mengejutkan di Balik Hoaks yang Merajalela
Sumber :
  • Tiktok

Modus 1: Situs Phishing Pencuri Data

Tech Data dan Sangfor Perkuat Solusi Keamanan Siber di RI

Korban dikirim ke halaman web yang meniru tampilan platform streaming atau media sosial populer. Di sana, mereka diminta:

  • Memasukkan username dan password akun TikTok/Instagram
  • Mengisi "form verifikasi usia" dengan data KTP
  • Menghubungkan akun Google atau Apple ID
6 Syarat Wajib Amankan Data: Registrasi SIM Biometrik Diuji

Data yang dikumpulkan kemudian dijual di forum gelap atau digunakan untuk kejahatan lanjutan seperti peretasan akun atau penipuan identitas.

Modus 2: Malware melalui File "Download" Palsu

IntelliBroń Infinix: ITSEC Amankan Pengguna Smartphone dari Ancaman Siber

Korban diarahkan mengunduh file berformat .apk (Android) atau .dmg (Mac) yang diklaim sebagai "video Eva Nurasyifa 7 menit". File tersebut sebenarnya adalah:

  • Spyware yang merekam aktivitas keyboard
  • Ransomware yang mengunci perangkat
  • Trojan yang mencuri data keuangan

Modus 3: Skema "Premium Content" Berbayar

Korban diminta membayar sejumlah uang (biasanya via e-wallet) untuk mengakses "konten eksklusif". Setelah pembayaran, link yang diberikan tidak berfungsi atau mengarah ke konten acak yang tidak berkaitan.
Peringatan Resmi: Tidak ada link resmi yang menyediakan konten dewasa Eva Nurasyifa karena konten tersebut tidak pernah ada. Setiap tawaran semacam itu adalah penipuan.

Mengapa Hoaks Seperti Ini Sangat Efektif? Psikologi di Balik Viralnya Misinformasi

Untuk memahami mengapa hoaks "Sultan Malaysia" begitu mudah menyebar, kita perlu melihat tiga faktor psikologis yang dimanfaatkan penyebar hoaks:

Faktor 1: Curiosity Gap (Kesenjangan Rasa Penasaran)

Narasi seperti "Link 7 menit yang bikin heboh" atau "Apa yang disembunyikan Eva Nurasyifa?" sengaja diciptakan untuk memicu rasa penasaran yang tak terpuaskan. Otak manusia cenderung mencari penutupan atas ketidakpastian sehingga orang rela mengklik link berbahaya hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu.

Faktor 2: Confirmation Bias (Bias Konfirmasi)

Bagi yang sudah percaya pada stereotip "Sultan = orang kaya Timur Tengah yang suka main perempuan", hoaks ini langsung diterima sebagai "bukti" yang memperkuat keyakinan mereka. Mereka tidak lagi mencari verifikasi karena informasi tersebut sesuai dengan narasi yang sudah diyakini.

Faktor 3: Social Proof (Bukti Sosial)

Ketika melihat ribuan orang membicarakan topik yang sama di kolom komentar atau trending, otak kita secara otomatis berpikir: "Pasti benar, karena banyak yang percaya." Padahal, jumlah tidak sama dengan kebenaran dan algoritma justru sering memperkuat echo chamber (gelembung informasi) yang memperparah bias ini.

Halaman Selanjutnya
img_title