BRIN: Angin Utara Kuat, Hujan Lebat Jabodetabek Meningkat Lagi

BRIN: Angin Utara Kuat, Hujan Lebat Jabodetabek Meningkat Lagi
Sumber :
  • Istimewa

Akselerasi Riset: BRIN Dorong Pemanfaatan Teknologi Laser PCB
  • BRIN memprediksi peningkatan intensitas hujan lebat Jabodetabek mulai pertengahan hingga akhir Februari 2026.
  • Penguatan angin dari utara menjadi pemicu utama curah hujan tinggi yang akan datang.
  • Bogor dan Bandung memiliki potensi banjir serta longsor yang tinggi hingga periode April 2026.
  • BMKG memperingatkan potensi banjir pesisir (rob) di 22 wilayah akibat fenomena perigee dan bulan purnama.

Inovasi BRIN: CARRIE, Robot Otonom Solusi Logistik Industri Kompleks

Para penduduk di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) wajib meningkatkan kewaspadaan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan potensi kembalinya hujan lebat Jabodetabek pada pertengahan hingga akhir Februari 2026. Fenomena ini dipicu oleh prediksi penguatan signifikan angin dari utara.

Peneliti Bidang Klimatologi dan Perubahan Iklim BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa meskipun saat ini terjadi penurunan curah hujan sementara, potensi hujan deras akan meningkat kembali dalam beberapa pekan ke depan. Penguatan angin dari utara berperan langsung dalam meningkatkan curah hujan di wilayah metropolitan tersebut.

Revolusi Teknologi Biosensing BRIN: Deteksi Dini Cepat

Penguatan Angin Utara Picu Intensitas Hujan Susulan

BRIN memastikan fenomena cuaca ekstrem kembali mengancam. Fenomena penguatan angin utara diprediksi kembali terjadi pada paruh kedua Februari 2026. Penguatan ini secara otomatis meningkatkan potensi hujan yang lebih intensif di seluruh wilayah Jabodetabek.

"Pada pertengahan hingga akhir Februari, penguatan angin dari utara akan kembali terjadi. Kondisi ini pasti meningkatkan hujan kembali untuk area Jabodetabek," jelas Erma Yulihastin.

Wilayah Paling Berisiko Terdampak Hingga April

Ancaman hujan berintensitas tinggi tidak hanya berpusat di Jabodetabek. BRIN memproyeksikan wilayah Bogor dan Bandung masih mengalami curah hujan tinggi hingga memasuki April 2026.

Oleh karena itu, Bogor dan Bandung memiliki risiko yang jauh lebih besar terdampak hujan deras. Kondisi ini sangat mungkin memicu potensi banjir dan longsor dalam periode tersebut.

Selain Jawa, peningkatan curah hujan tinggi juga berpeluang terjadi di beberapa daerah di Sumatera. Wilayah yang harus waspada meliputi Kabupaten Agam, Kota Padang di Sumatera Barat, serta wilayah Tapanuli di Sumatera Utara.

Dinamika Cuaca Lain: Vortex dan Jenis Angin Kencang

Fenomena curah hujan intensitas tinggi di luar Jawa ini dipengaruhi dinamika vortex di Samudra Hindia. Vortex ini aktif memicu hujan deras terutama pada periode Maret hingga April.

BRIN juga membedakan dua jenis utama angin kencang. Pertama, angin kencang yang terjadi tanpa disertai hujan. Kedua, angin kencang yang datang bersamaan dengan hujan.

Angin kencang tanpa hujan seringkali berkaitan dengan fenomena angin darat–laut. Aktivitas konvektif atau badai di laut memicu kondisi ini. Fenomena tersebut kemudian memengaruhi munculnya angin kencang di daratan, khususnya area pesisir. Sementara itu, angin kencang yang disertai hujan biasanya berasal dari awan cumulonimbus atau awan badai.

Peringatan Dini BMKG: Ancaman Banjir Rob di Pesisir Nasional

Selain peringatan hujan lebat dari BRIN, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengeluarkan peringatan cuaca bahari. BMKG mencatat adanya fenomena fase perigee yang terjadi pada 30 Januari 2026. Perigee adalah posisi ketika bulan berada paling dekat dengan bumi.

Fenomena ini, ditambah dengan fase bulan purnama pada 2 Februari 2026, berpotensi signifikan meningkatkan ketinggian maksimum air laut.

Berdasarkan pantauan data air dan prediksi pasang surut, banjir pesisir atau rob berpotensi tinggi terjadi di sedikitnya 22 wilayah pesisir Indonesia. Potensi banjir rob ini berisiko mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

Dampak utamanya termasuk aktivitas bongkar muat di pelabuhan, kegiatan permukiman pesisir, hingga usaha tambak garam dan perikanan darat. Masyarakat di pesisir Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua harus meningkatkan kesiapan menghadapi gelombang pasang.