BRIN Temukan Spesies Ngengat Baru di Papua dan Sulawesi

BRIN Temukan Spesies Ngengat Baru di Papua dan Sulawesi
Sumber :
  • Istimewa

BRIN: Angin Utara Kuat, Hujan Lebat Jabodetabek Meningkat Lagi
  • Peneliti BRIN mengidentifikasi dua spesies serangga endemik di Pegunungan Foja dan Sulawesi.
  • Analisis morfologi sayap dan struktur genitalia menjadi kunci utama klasifikasi taksonomi.
  • Ancaman deforestasi nyata membayangi kelestarian fauna langka di hutan tropis Indonesia.

6.747 BTS BAKTI Aktif 2025: Fokus Infrastruktur Digital Papua

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi mengumumkan temuan spesies ngengat baru yang berasal dari wilayah Papua dan Sulawesi. Penemuan ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia yang belum sepenuhnya terpetakan.

Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah memimpin riset mendalam ini melalui Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi. Mereka melakukan survei lapangan sejak 2002 hingga 2017 serta mengkaji koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB).

Akselerasi Riset: BRIN Dorong Pemanfaatan Teknologi Laser PCB

Keunikan Spesies Ngengat Baru dari Famili Crambidae

Tim peneliti mengidentifikasi dua anggota baru dari famili Crambidae melalui pengamatan morfologi yang sangat detail. Perbedaan fisik yang kontras dengan kerabat terdekatnya memastikan bahwa kedua serangga ini merupakan spesies yang sebelumnya belum pernah terdaftar.

Identifikasi ini melibatkan pembedahan struktur organ reproduksi dan pola warna sayap. Karakteristik tersebut menjadi indikator evolusi unik yang terjadi pada masing-masing habitat asalnya.

Mengenal Glyphodella fojaensis dan Chabulina celebesensis

Spesies pertama, Glyphodella fojaensis, merupakan ngengat endemik dari Pegunungan Foja, Papua. Serangga nokturnal ini menghuni hutan tropis primer dan memiliki ciri khas bercak kuning bulat pada sayap depannya.

Sementara itu, spesies kedua adalah Chabulina celebesensis yang mendiami wilayah Sulawesi Utara hingga Sulawesi Tenggara. Ngengat ini hidup di hutan sekunder dan dapat dikenali melalui pola garis sayap serta bentuk genitalia yang spesifik.

Kedua spesies ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa terhadap lingkungan sekitarnya. Namun, sifatnya yang endemik membuat mereka sangat bergantung pada keaslian ekosistem hutan setempat.

Perlindungan Ekosistem dan Masa Depan Riset Biodiversitas

Rosichon Ubaidillah menegaskan bahwa penemuan ini membawa peringatan penting mengenai kelestarian alam. Deforestasi dan degradasi habitat menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan hidup serangga-serangga langka tersebut.

Oleh karena itu, BRIN mendesak adanya upaya perlindungan ekosistem hutan yang lebih masif di Papua dan Sulawesi. Tanpa langkah konservasi yang tepat, spesies unik ini berisiko punah sebelum peneliti sempat mempelajari peran ekologisnya lebih lanjut.

Kedepannya, tim peneliti akan terus melakukan eksplorasi di berbagai wilayah terpencil lainnya. Langkah strategis ini bertujuan untuk mendata, melestarikan, dan memanfaatkan spesies ngengat baru serta kekayaan hayati lainnya secara berkelanjutan.