Main Game Bisa Bikin Otak 4 Tahun Lebih Muda? Ini Faktanya!

Main Game Bisa Bikin Otak 4 Tahun Lebih Muda? Ini Faktanya!
Sumber :
  • Alodokter

Gadget – Selama ini, bermain video game sering dikucilkan sebagai kebiasaan “buang-buang waktu” terutama oleh generasi yang tumbuh sebelum era digital. Namun, riset terbaru dari dunia neuroscience justru membantah stigma tersebut. Bahkan, dalam kondisi tertentu, bermain video game bisa membuat otak seseorang tampak hingga empat tahun lebih muda dibanding usia biologisnya.

Rahasia Makanan untuk Tingkatkan Daya Ingat dan Kurangi Risiko Alzheimer

Temuan ini bukan sekadar klaim sensasional, melainkan hasil dari serangkaian studi ilmiah yang dipublikasikan di jurnal ternama seperti NeuroImage (2024) dan Nature Communications (2025). Dan kuncinya bukan pada semua jenis game melainkan pada genre yang menuntut strategi, kecepatan berpikir, dan pengambilan keputusan kompleks.

Artikel ini mengupas tuntas mekanisme ilmiah di balik manfaat kognitif video game, studi kasus StarCraft II, perbedaan antara gamer dan non-gamer, serta batasan penting agar manfaat ini tidak berubah jadi bahaya.

6 Game RPG Turn Based Terbaik di Android dan iOS 2025!

Video Game Bukan Sekadar Hiburan Tapi “Latihan Otak” Kompleks

Menurut Profesor Aaron Seitz, psikolog sekaligus Direktur Brain Game Center for Mental Fitness and Well-being di Northeastern University, video game modern khususnya yang bersifat dinamis merupakan bentuk latihan keterampilan kognitif yang jauh lebih efektif dibanding “game latihan otak” konvensional.

Cek Kesehatan Otak dengan AI! BrainEye Hadirkan Skrining Cepat & Akurat

“Game latihan otak biasa terlalu sederhana. Tapi game seperti StarCraft atau Call of Duty memaksa otak beradaptasi dalam lingkungan yang terus berubah,” ujarnya dalam wawancara dengan The Washington Post.

Berbeda dengan aplikasi brain training yang repetitif dan statis, video game bergenre action atau strategi real-time menuntut:

  • Pemrosesan informasi visual cepat
  • Pengambilan keputusan di bawah tekanan
  • Manajemen sumber daya secara simultan
  • Koordinasi motorik dan perhatian terbagi

Kombinasi ini menciptakan “latihan mental intensif” yang merangsang berbagai area otak sekaligus.

Studi StarCraft II: Bukti Ilmiah Otak Gamer Lebih Efisien

Salah satu penelitian paling komprehensif dilakukan oleh Carlos Coronel dan tim dari University of Wisconsin–Madison. Mereka memilih StarCraft II game strategi real-time buatan Blizzard asal objek studi karena kompleksitas kognitifnya yang tinggi.

Metodologi Penelitian:

  • 62 partisipan: 31 gamer berpengalaman vs 31 non-gamer
  • Dilakukan pemindaian fMRI untuk mengamati aktivitas otak
  • Diuji kemampuan memproses informasi, perhatian visual, dan fungsi eksekutif

Hasil Temuan:

  • Gamer berpengalaman menunjukkan efisiensi pemrosesan informasi 20–30% lebih tinggi
  • Konektivitas saraf lebih kuat di area prefrontal cortex dan parietal lobe wilayah yang mengatur perencanaan, fokus, dan kontrol impuls
  • Pola aktivasi otak mereka mirip dengan individu yang 4 tahun lebih muda secara neurologis

Temuan ini diperkuat dalam studi lanjutan 2025 yang dipublikasikan di Nature Communications, yang menyimpulkan bahwa kompleksitas kognitif dalam game strategi setara dengan aktivitas kreatif seperti bermain musik atau melukis keduanya dikenal mampu memperlambat penuaan otak.

Gamer Pemula Juga Bisa Dapat Manfaat Asal Pilih Game yang Tepat

Yang mengejutkan, manfaat ini tidak eksklusif untuk gamer veteran. Dalam eksperimen terpisah, Coronel merekrut non-gamer dan meminta mereka bermain:

  • Kelompok A: StarCraft II (strategi real-time)
  • Kelompok B: Hearthstone (kartu berbasis giliran, aturan statis)

Setelah 30 jam bermain dalam beberapa minggu, kelompok StarCraft II menunjukkan peningkatan signifikan dalam fungsi eksekutif dan fleksibilitas kognitif, sementara kelompok Hearthstone tidak menunjukkan perubahan berarti.

“Manfaat sudah muncul bahkan sebelum peserta menjadi ahli. Cukup dengan paparan terstruktur selama beberapa minggu,” jelas Coronel.

Ini membuktikan bahwa jenis game sangat menentukan dampaknya bukan sekadar durasi bermain.

Bukan Semua Game Sama: Genre Menentukan Manfaat Kognitif

Peneliti menekankan bahwa tidak semua video game memberikan manfaat serupa. Berikut perbandingannya:

Genre GameDampak KognitifContoh
Strategi Real-Time (RTS)Tinggi – meningkatkan fungsi eksekutif, multitasking, perencanaanStarCraft II, Age of Empires
Action/FPSSedang-Tinggi – memperkuat perhatian visual & reaksi cepatCall of Duty, Apex Legends
Puzzle/AdventureSedang – melatih logika & memori kerjaPortal, The Witness
Kartu/GiliranRendah – minim stimulasi kognitif dinamisHearthstone, Solitaire
Game Pasif (Clicker, Idle)Sangat Rendah – hampir tidak ada manfaat kognitifCookie Clicker

Intinya: semakin dinamis dan menantang secara kognitif, semakin besar potensi manfaatnya.

Peringatan Para Ahli: Jangan Sampai Overdosis Game!

Meski manfaatnya nyata, para peneliti tegas mengingatkan agar tidak berlebihan. Profesor Seitz menyarankan durasi ideal:

“30 hingga 60 menit per hari sudah cukup untuk mendapatkan manfaat kognitif tanpa risiko.”

Coronel menambahkan bahwa keseimbangan tetap kunci utama:

  • Aktivitas fisik (olahraga)
  • Interaksi sosial langsung
  • Tidur berkualitas
  • Paparan alam

Tanpa elemen-elemen ini, bermain game berlebihan justru bisa menyebabkan:

  • Kelelahan mental
  • Gangguan tidur
  • Isolasi sosial
  • Penurunan performa akademik/kerja

“Game adalah alat bukan pengganti gaya hidup sehat,” tegasnya.

Implikasi Masa Depan: Game sebagai Terapi Kognitif?

Temuan ini membuka pintu bagi pemanfaatan video game dalam konteks terapeutik, seperti:

  • Program pencegahan demensia pada lansia
  • Rehabilitasi kognitif pasca stroke
  • Pelatihan keterampilan eksekutif untuk anak ADHD

Beberapa startup kesehatan digital kini sedang mengembangkan game terapeutik bersertifikasi medis, yang dirancang khusus untuk melatih fungsi otak tertentu dengan pengawasan dokter.

Kesimpulan: Main Game Boleh, Asal Cerdas

Jadi, apakah benar main game bisa bikin otak 4 tahun lebih muda?
Ya tapi hanya jika Anda memilih game yang tepat, bermain dalam durasi wajar, dan menjaga keseimbangan hidup.

Alih-alih melarang, mungkin lebih bijak mengarahkan anak atau diri sendiri ke genre yang benar-benar melatih otak. Karena di era digital ini, video game bukan lagi musuh melainkan alat potensial untuk menjaga otak tetap awet muda.

Yang terpenting: jangan sampai kalah oleh game. Jadilah pemain yang menguasai permainan dan otak Anda sendiri.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget