Saham GoTo Melesat! CEO Baru Hans Patuwo Bawa Angin Perubahan & Isu Merger

Saham GoTo Melesat! CEO Baru Hans Patuwo Bawa Angin Perubahan & Isu Merger
Sumber :
  • Goto

Gadget – Pada Rabu, 17 Desember 2025, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) resmi mengumumkan Hans Patuwo sebagai Direktur Utama sekaligus Group Chief Executive Officer (CEO) yang baru. Pengangkatan ini, yang disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), menandai babak baru dalam perjalanan perusahaan hasil merger antara Gojek dan Tokopedia dan sekaligus memicu kembali spekulasi kuat tentang kemungkinan merger strategis dengan Grab Holdings Ltd.

Casion Lolos GVV Batch 8: Kolaborasi Grab Genjot EV Charging

Hans menggantikan Patrick Walujo, yang mengundurkan diri pada 24 November 2025 setelah menjabat sejak 2023. Dalam pernyataannya, Hans menyebut penunjukan ini sebagai "amanah besar" dan menegaskan komitmennya untuk memperkuat eksekusi operasional serta menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan mulai dari mitra driver, pelaku UMKM, hingga konsumen akhir.

Namun, di balik transisi kepemimpinan yang tampak teknis, pasar membaca sinyal yang lebih dalam: apakah GoTo akhirnya membuka pintu untuk bergabung dengan Grab?

Grab Uji Coba Drone: Solusi Pengiriman Makanan Lintas Sungai

Siapa Hans Patuwo? Arsitek Internal GoTo yang Naik Pangkat

Hans Patuwo bukan figur asing di ekosistem GoTo. Ia telah menjadi salah satu arsitek utama transformasi operasional dan fintech perusahaan sejak bergabung dengan Gojek pada 2018 sebagai Chief Operating Officer (COO).

Ambisi Besar Komdigi: Tingkat Kesuksesan Startup Nasional Digenjot 8% pada 2026

Perjalanannya menunjukkan kedalaman dan keluasan pengalaman:

  • 2018: COO Gojek   fokus pada penguatan operasional dan kesejahteraan mitra driver
  • 2021: Memimpin kelahiran GoTo Financial   mengawasi peluncuran layanan pinjaman dan pengembangan GoPay, kini salah satu platform fintech terbesar di Indonesia
  • Awal 2024: COO GoTo Group   bertanggung jawab atas strategi korporat dan migrasi cloud skala besar
  • Juli 2025: Presiden On-Demand Services   mengelola bisnis inti seperti ride-hailing dan pesan-antar

Sebelum Gojek, Hans memiliki latar belakang internasional yang solid bekerja di Amerika Serikat, Tiongkok, dan Singapura, serta pernah menjabat sebagai Partner di McKinsey & Company, firma konsultan manajemen global ternama.

Kombinasi pengalaman strategis, operasional, dan fintech menjadikannya kandidat ideal di mata pemegang saham terutama saat GoTo berada di persimpangan jalan antara profitabilitas mandiri dan konsolidasi regional.

Saham GoTo Melesat, Pasar Bereaksi Positif

Keputusan RUPSLB tidak hanya simbolis ia langsung berdampak pada pasar. Menurut Bloomberg, saham GoTo telah naik sekitar 20% sepanjang kuartal ini di Bursa Efek Indonesia, mengungguli kinerja perusahaan ride-hailing global seperti Uber atau Lyft.

Namun, di balik kenaikan tersebut, valuasi GoTo masih jauh dari masa kejayaan IPO. Jika pada puncaknya di 2022 kapitalisasi pasar menyentuh 30 miliar dolar AS, kini nilainya turun drastis ke di bawah 5 miliar dolar AS.

Kenaikan terbaru lebih mencerminkan sentimen spekulatif bukan perbaikan fundamental terutama terkait isu merger dengan Grab yang kembali menguat pasca pergantian CEO.

Mengapa Merger GoTo-Grab Kembali Jadi Perbincangan?

Isu merger antara GoTo dan Grab bukan hal baru. Namun, beberapa faktor kini membuatnya terasa lebih realistis:

1. Perubahan Kepemimpinan yang Strategis
Patrick Walujo diketahui menentang rencana merger dengan Grab, khawatir akan kehilangan identitas lokal dan kontrol atas ekosistem. Sebaliknya, Hans Patuwo dipandang lebih terbuka terhadap kolaborasi strategis, terutama yang bisa mempercepat jalan menuju profitabilitas.

2. Tekanan dari Investor Besar
SoftBank Group salah satu investor utama GoTo dilaporkan mendorong pergantian kepemimpinan karena frustrasi atas lambatnya pencapaian profitabilitas. SoftBank juga merupakan pemegang saham signifikan di Grab, sehingga memiliki insentif kuat untuk mendorong konsolidasi.

3. Dukungan dari Sovereign Wealth Fund Indonesia
Indonesia Investment Authority (Danantara), dana kekayaan negara Indonesia, disebut ikut memfasilitasi diskusi awal antara GoTo dan Grab. Ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia melihat potensi manfaat dari entitas digital raksasa yang kompetitif di tingkat global.

4. Dominasi Pasar yang Tak Tertandingi
Jika merger terjadi, entitas gabungan akan menguasai:

  • Lebih dari 90% pasar ride-hailing di Indonesia
  • Pangsa mayoritas di layanan pesan-antar makanan dan logistik
  • Ekosistem fintech terpadu (GoPay + GrabPay)

Skala semacam itu bisa menghasilkan efisiensi operasional luar biasa, penghematan biaya pemasaran, dan kemampuan negosiasi yang kuat dengan mitra semua kunci menuju profitabilitas berkelanjutan.

Kekhawatiran Publik dan Regulator

Namun, merger semacam ini tidak lepas dari risiko dan kontroversi.

Monopoli dan Kenaikan Harga
Dengan dominasi pasar lebih dari 90%, banyak pihak khawatir GoTo-Grab akan menaikkan tarif layanan baik untuk konsumen maupun mitra driver karena minimnya persaingan.

Ancaman terhadap Lapangan Kerja
Konsolidasi operasional kemungkinan besar akan mengarah pada pengurangan duplikasi peran, termasuk di bidang pemasaran, teknologi, dan layanan pelanggan berpotensi memicu PHK massal.

Respons KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha)
Meski belum ada pernyataan resmi, KPPU diperkirakan akan mengawasi ketat setiap langkah merger. Indonesia memiliki sejarah menolak atau membatasi konsolidasi yang berpotensi merusak persaingan seperti kasus larangan merger antara Gojek dan Tokopedia di sektor fintech pada 2022.

Prospek Bisnis GoTo: Menuju Profitabilitas atau Justru Melebur?

Di luar isu merger, fundamental bisnis GoTo sebenarnya mulai membaik:

  • Perusahaan telah menaikkan panduan kinerja untuk 2026
  • Beberapa analis memproyeksikan GoTo akan mencatatkan laba pertama dalam sejarahnya pada 2026
  • GoPay terus tumbuh sebagai mesin pendapatan non-transaksi

Namun, seperti diingatkan oleh Ariyanto Jahja dari Macquarie Group, dalam jangka pendek, sentimen merger masih lebih dominan dalam mendorong harga saham dibanding kinerja operasional.

Artinya, pasar percaya bahwa kelangsungan hidup GoTo jangka panjang mungkin bergantung pada kolaborasi besar bukan kompetisi berdarah-darah.

Kesimpulan: Era Baru GoTo Dimulai Sendiri atau Bersama Grab?

Penunjukan Hans Patuwo sebagai CEO GoTo bukan sekadar rotasi manajemen. Ini adalah sinyal strategis bahwa perusahaan sedang memposisikan diri di ambang keputusan besar:

  • Jalan pertama: Tetap mandiri, fokus pada efisiensi, dan berjuang sendiri menuju profitabilitas.
  • Jalan kedua: Bergabung dengan Grab, menciptakan raksasa digital Asia Tenggara, dan berkompetisi dengan Alibaba, Amazon, atau Google.

Yang jelas, Hans Patuwo kini memegang kendali di momen paling krusial dalam sejarah GoTo. Keputusannya dan tekanan dari investor, pemerintah, serta publik akan menentukan apakah GoTo tetap menjadi simbol startup lokal yang tangguh, atau menjadi bagian dari entitas global yang lebih besar.

Bagi jutaan mitra driver, UMKM, dan konsumen, masa depan GoTo bukan hanya soal bisnis tapi soal akses, keadilan, dan harga yang terjangkau.

Dan semua itu akan diputuskan dalam beberapa bulan ke depan.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget