Dari Bencana Sumatera ke Surat ke PBB: Ini Alasan BEM UGM “Terpancing” Lawan MBG!
Bagi BEM UGM, bencana bukan takdir tapi hasil dari kebijakan eksploitasi sumber daya, deforestasi, dan abai terhadap tata ruang. Dan ketika negara gagal melakukan evaluasi, maka mahasiswa merasa terpanggil untuk bersuara.
Puncak Kemarahan: Anak SD NTT Bunuh Diri karena Gagal Beli Pena Rp10 Ribu
Namun, momen yang benar-benar menjadi titik didih emosi adalah kisah tragis seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak tersebut memutuskan mengakhiri hidupnya setelah gagal membeli pena dan buku seharga Rp10.000.
Sementara itu, pemerintah menggelontorkan Rp1,2 triliun per hari untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) program yang, menurut BEM UGM, salah sasaran dan salah alokasi anggaran.
“Ironisnya saat bersamaan negara setiap hari menggelontorkan Rp1,2 triliun untuk MBG. Itu puncak kemarahan publik... Saya rasa warga dunia harus membantu rakyat Indonesia untuk bantu selamatkan rakyatnya karena kita punya presiden yang tidak bisa dikasih tahu apa-apa.”
Pernyataan ini keras, tapi mencerminkan rasa putus asa kolektif terhadap sistem yang dianggap tuli terhadap jeritan rakyat kecil.
Mengapa UNICEF? Bukan DPR atau Lembaga Dalam Negeri?
Pertanyaan kritis muncul: kenapa BEM UGM memilih UNICEF, bukan lembaga dalam negeri seperti DPR, Ombudsman, atau KPK?
Jawaban Tiyo lugas: karena semua kanal perbaikan di dalam negeri sudah buntu.
“Ringkasnya, ada kemampatan di bangsa kita. Kanal perubahan atau perbaikan buntu. Pascademo Agustus, tuntutan publik 17+8 saja sampai sekarang kita tidak bisa percaya sama DPR.”
Bagi BEM UGM, upaya dialog, audiensi, dan kritik konstruktif selama ini tidak pernah ditanggapi serius. Maka, satu-satunya jalan tersisa adalah menginternasionalkan isu dengan harapan tekanan global bisa memaksa perubahan.
Diteror Setelah Kirim Surat: “Agen Asing, Jangan Cari Panggung!”
Langkah berani ini tidak datang tanpa risiko. Tak lama setelah surat dikirim, Tiyo menerima ancaman penculikan via WhatsApp dari nomor berkode Inggris, serta pesan bernada fitnah:
“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah.”
Namun, Tiyo menolak takut. Ia menyatakan bahwa takut berarti teror berhasil.
“Bagi saya, menghadapi ini dengan takut artinya teror itu berhasil. Saya harus menghadapi ini secara ksatria... Apapun risiko sudah kita hitung.”