Dari Bencana Sumatera ke Surat ke PBB: Ini Alasan BEM UGM “Terpancing” Lawan MBG!
Respons Istana: Kritik Sah, Tapi Harus Beretika
Pihak Istana, melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa kritik dari mahasiswa adalah hak konstitusional. Namun, ia menekankan pentingnya etika dan adab ketimuran dalam menyampaikan pendapat.
“Menyampaikan kritik itu sah-sah saja... tetapi tentu kita mengimbau untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga. Kemudian juga mengedepankan etika, adab-adab ketimuran.”
Soal teror, Prasetyo berjanji akan mengecek lebih lanjut.
Kesimpulan: Suara Mahasiswa di Tengah Kemampatan Demokrasi
Kisah BEM UGM bukan sekadar soal surat ke UNICEF tapi cerminan krisis kepercayaan terhadap institusi demokrasi dalam negeri. Ketika DPR dianggap tuli, eksekutif dianggap defensif, dan media dianggap terfragmentasi, maka mahasiswa memilih jalan terakhir: memanggil dunia.
Langkah ini kontroversial, tapi juga heroik. Di tengah ancaman, mereka tetap berdiri bukan untuk mencari panggung, tapi untuk menyelamatkan pena seharga Rp10.000 yang nyatanya lebih berharga dari triliunan rupiah yang salah arah.
Dan jika suara itu harus bergema dari New York, bukan Senayan maka biarlah begitu. Karena kadang, kebenaran butuh telinga asing agar didengar oleh bangsanya sendiri.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |