Bibit Siklon 93S Akan Jadi Siklon Aktif 21 Desember, Waspada Dampak Cuaca Ekstrem!

Bibit Siklon 93S Akan Jadi Siklon Aktif 21 Desember, Waspada Dampak Cuaca Ekstrem!
Sumber :
  • BMKG

Gadget – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait Bibit Siklon Tropis 93S, sistem cuaca ekstrem yang saat ini berkembang di Samudra Hindia selatan Indonesia. Berdasarkan analisis terkini, bibit siklon ini berpotensi tinggi menjadi siklon tropis aktif pada malam hari, 21 Desember 2025.

BRIN: Angin Utara Kuat, Hujan Lebat Jabodetabek Meningkat Lagi

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa sistem ini pertama kali terdeteksi pada 11 Desember 2025 pukul 07.00 WIB di perairan selatan Bali dan Nusa Tenggara Barat. Hingga Jumat, 19 Desember 2025, pusat sirkulasinya berada di koordinat 12,5° LS dan 108,8° BT, tepat di sebelah selatan Jawa Barat.

Meski belum memenuhi syarat sebagai siklon tropis karena angin kencang (gale force) baru terpantau di satu kuadran (barat laut) kondisi atmosfer di sekitar sistem sangat mendukung penguatannya dalam 72 jam ke depan.

Dua Langkah Simpel, HP Anda Jadi Alarm Gempa Real-Time dari BMKG & Google

Artikel ini menyajikan analisis ilmiah BMKG, prediksi perkembangan siklon, daftar wilayah terdampak, serta langkah mitigasi yang perlu diambil masyarakat guna menghindari risiko bencana hidrometeorologi.

Kondisi Terkini: Bibit Siklon 93S dalam Angka

Misteri Hujan Ikan di Yoro Honduras: Benarkah dari Langit?

Hingga 19 Desember 2025 pukul 07.00 WIB, Bibit Siklon Tropis 93S menunjukkan parameter berikut:

  • Kecepatan angin maksimum: 35 knot (65 km/jam)
  • Tekanan minimum: 998 hPa
  • Suhu permukaan laut: 28–30°C (sangat mendukung intensifikasi)
  • Wind shear: Lemah (15 knot)
  • Vortisitas: Kuat di lapisan bawah hingga menengah
  • Kelembapan udara: Tinggi di lapisan permukaan

Data citra satelit menunjukkan aktivitas konvektif yang konsisten, terutama di wilayah barat daya hingga barat laut pusat sirkulasi. Pola awan menunjukkan adanya shear pattern dan struktur sirkulasi tertutup dari permukaan hingga 700 hPa, meski pada lapisan 500 hPa sirkulasi terlihat lebih lemah dan bergeser.

Prediksi BMKG: Kapan 93S Jadi Siklon Aktif?

BMKG membagi prediksi intensifikasi menjadi tiga tahap:

1. Dalam 24 Jam (19–20 Desember 2025)

  • Intensitas perlahan meningkat
  • Area angin gale force mulai meluas dari barat laut ke barat daya
  • Masih berstatus low dengan pergerakan ke arah barat–barat daya
  • Potensi menjadi siklon: sedang hingga tinggi

2. Dalam 48–72 Jam (20–21 Desember 2025)

  • Kecepatan angin maksimum diprediksi mencapai 45 knot
  • Area gale force wind meluas hingga mencakup 4 kuadran
  • Diprediksi resmi menjadi Siklon Tropis Kategori 1 pada malam hari, 21 Desember 2025
  • Potensi menjadi siklon: tinggi

Faktor Pendukung Intensifikasi Siklon

BMKG menjelaskan bahwa penguatan 93S didorong oleh sejumlah faktor atmosfer yang sangat kondusif:

  • Gelombang Equatorial Rossby aktif – memperkuat konvergensi di lapisan bawah
  • Suhu permukaan laut hangat (28–30°C) – menyediakan energi termal untuk pertumbuhan awan konvektif
  • Wind shear lemah (15 knot) – memungkinkan struktur vertikal siklon tetap stabil
  • Kelembapan udara tinggi – mencegah penguapan awan sebelum mencapai ketinggian puncak
  • Vortisitas kuat – memperkuat rotasi sirkulasi di lapisan bawah hingga menengah

Kombinasi faktor ini menciptakan "lingkungan ideal" bagi bibit siklon untuk berkembang menjadi sistem cuaca ekstrem yang terorganisir.

Dampak Tidak Langsung: Wilayah Terdampak Hingga 20 Desember 2025

Meski 93S belum menjadi siklon aktif, pengaruhnya terhadap cuaca Indonesia sudah terasa. BMKG memperingatkan tiga jenis dampak utama hingga 20 Desember 2025 pukul 19.00 WIB:

1. Hujan Sedang hingga Lebat

Berpotensi terjadi di:

  • Lampung
  • Banten
  • DKI Jakarta
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Daerah Istimewa Yogyakarta
  • Jawa Timur

2. Angin Kencang

Berpotensi terjadi di pesisir selatan:

  • Banten
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • DIY
  • Jawa Timur

3. Gelombang Tinggi di Perairan Selatan Jawa hingga NTT

Gelombang Sedang (1,25–2,5 meter):

  • Perairan barat Lampung
  • Samudra Hindia barat Lampung
  • Selat Sunda
  • Perairan selatan Jawa Timur hingga NTT
  • Selat Bali–Lombok–Alas bagian selatan
  • Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga NTT

Gelombang Tinggi (2,5–4 meter):

  • Perairan selatan Banten hingga Yogyakarta
  • Samudra Hindia selatan Banten hingga Yogyakarta

Nelayan, pelaku wisata bahari, dan operator transportasi laut diimbau menghindari aktivitas di perairan terdampak hingga kondisi membaik.

Mengapa Bibit Siklon Ini Berbahaya Meski Belum Aktif?

Banyak masyarakat menganggap bahwa hanya siklon aktif yang berbahaya. Namun, BMKG menekankan bahwa bibit siklon justru sering memicu cuaca ekstrem lebih luas karena cakupan sistemnya lebih tersebar.

Bibit Siklon 93S, meski belum terorganisir sempurna, telah:

  • Memperkuat konvergensi massa udara di Jawa dan sekitarnya
  • Meningkatkan kelembapan atmosfer hingga lapisan atas
  • Memperdalam tekanan rendah di Samudra Hindia, yang menarik angin dari daratan

Kondisi ini memicu hujan konvektif intensif di siang hingga malam hari potensi banjir dan longsor pun meningkat, terutama di wilayah perkotaan dan pegunungan.

Imbauan Resmi BMKG: Langkah Mitigasi untuk Masyarakat

BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk meminimalkan risiko:

  • Pantau informasi cuaca harian melalui situs bmkg.go.id atau aplikasi Info BMKG
  • Hindari aktivitas di pesisir selatan Jawa hingga 21 Desember
  • Siapkan saluran drainase di rumah dan lingkungan
  • Batasi perjalanan ke daerah rawan longsor, terutama di Jawa Tengah dan DIY
  • Nelayan tradisional diminta tidak melaut di perairan dengan gelombang >2,5 meter
  • Operator transportasi udara dan laut harus memantau NOTAM dan navigasi cuaca

Mengapa Indonesia Sering Dihantam Bibit Siklon?

Indonesia berada di zona konvergensi antara dua samudra (Hindia dan Pasifik) dan dua benua (Asia dan Australia). Posisi ini membuatnya rentan terhadap pembentukan sistem tekanan rendah, terutama saat musim hujan (Oktober–April).

Faktor pemanasan global juga memperkuat suhu permukaan laut, yang menjadi "bahan bakar" utama bagi siklon tropis. BMKG mencatat peningkatan frekuensi bibit siklon di selatan Indonesia dalam lima tahun terakhir tren yang diperkirakan akan berlanjut.

Kesimpulan: Siaga, Bukan Panik

Bibit Siklon Tropis 93S adalah pengingat bahwa cuaca ekstrem bisa muncul kapan saja di musim hujan. Namun, dengan informasi yang akurat dan kesiapsiagaan yang matang, risiko bencana bisa dikurangi secara signifikan.

BMKG menegaskan bahwa siklon ini tidak akan mendarat di daratan Indonesia, tetapi dampak tidak langsungnya berupa hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi harus diwaspadai terutama di Pulau Jawa dan perairan selatannya.

Masyarakat diimbau tetap tenang, jangan menyebarkan hoaks, dan selalu merujuk ke sumber resmi. Karena dalam menghadapi cuaca ekstrem, kewaspadaan kolektif adalah benteng terbaik.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget